Surabaya (beritajatim.com) – Sebagai Ketua Dewan Pembina GBK (Gawagis Berfikir Kemajuan) dan juga tokoh muda NU, Ubaidillah Amin (Gus Ubaid) mendapat keluhan dari sejumlah petani tebu di Jatim.
“Dalam beberapa hari ini, kami keliling menemui relawan petani tebu kami di daerah Malang dan Tapal Kuda. Seperti Banyuwangi, Jember, Situbondo, Lumajang, dan Probolinggo. Mereka mengeluhkan terkait pembelian harga tebu yang murah oleh Pabrik Gula (PG).
Harga tebu tahun ini turun terus-menerus dengan alasan rendemen rendah. Padahal, kenyataannya cuaca lumayan bagus panas dan kering, meskipun terkadang hujan, yang menurut petani ideal untuk rendemen tinggi,” kata Gus Ubaid.
Menurut dia, para petani curiga ada permainan di sisi PG. Ada anggapan bahwa sebagian PG memotong harga tanpa transparansi data rendemen atau sakarosa.
“Kami mohon agar pemerintah mengaudit sistem penentuan rendemen di semua PG. Harga minimal tebu ditetapkan adil dan tidak semena-mena oleh PG. Petani diberi ruang bersuara secara resmi, tidak hanya KUD atau pihak-pihak tertentu. Kami telah bekerja keras, modal besar, tapi hasil justru dipermainkan,” pungkasnya. [tok/aje]






