Malang (beritajatim.com) – Di tengah keramaian Helipad Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pagi itu, Senin (21/7/2025), Ania Mediara menggenggam erat sebatang bibit pohon. Jaket almamater KKN berwarna khas yang baru saja disematkan terasa membebani pundaknya, bukan karena berat kainnya, melainkan karena harapan yang dititipkan bersamanya.
Ania, mahasiswi Fakultas Psikologi semester empat itu, tidak sendirian. Ia adalah satu dari 3.010 wajah muda yang bersiap diterjunkan ke seluruh penjuru negeri. Di tangannya, pohon itu bukan sekadar tanaman. Itu adalah tiket, sekaligus janji.
Tiket untuk memasuki kehidupan masyarakat di Desa Wagir, Kabupaten Malang, dan janji untuk menanam kebaikan di sana. “Ini nanti dibawa ke sana, ke Wagir, untuk ditanam bersama-sama,” ujar Ania dengan mata berbinar. Satu mahasiswa, satu pohon. Di kelompoknya yang beranggotakan 14 orang, maka 14 pohon akan menjadi saksi bisu pengabdian mereka.
Pohon itu adalah simbol kecil dari sebuah misi raksasa yang diusung UMM tahun ini: KKN Berdampak. Sebuah program yang dirancang untuk menjawab dua isu paling mendesak bangsa: ketahanan pangan dan krisis lingkungan.
Bagi Ania dan rekannya, Sasmita Ovarahma, KKN ini lebih dari sekadar program wajib untuk lulus. Setelah menerima tiga kali pembekalan dari kampus, mereka telah merancang agenda konkret. “Rencananya di Wagir itu ada beberapa proyek, salah satunya pencegahan bullying di siswa SD,” tutur Ania.
Sebuah program yang lahir dari disiplin ilmu mereka di Fakultas Psikologi, menunjukkan bagaimana keilmuan di bangku kuliah coba mereka bumikan untuk menyelesaikan masalah nyata di desa. Harapan mereka sederhana namun mendalam.
“Harapannya sih pasti bisa membawa desanya itu lebih baik, terus sesuai kebutuhan desanya nanti apa, kita nanti bakal memberikan yang terbaik juga buat desanya,” kata Sasmita, menyuarakan optimisme ribuan rekannya. Mereka adalah ujung tombak dari sebuah visi besar yang digagas dari menara gading kampus.
Visi itu dijabarkan oleh Rektor UMM, Prof. Dr. H. Nazaruddin Malik, SE., M.Si. Baginya, KKN Berdampak adalah upaya untuk keluar dari rutinitas seremonial.
“Kita ingin memperbaiki dari periode ke periode, agar KKN ini lebih dirasakan. Tidak hanya sekedar simbol-simbol, biasanya kan ngecat-ngecat, pasang papan nama. Itu boleh-boleh saja. Tapi yang lebih penting adalah interaksinya,” kata Prof. Nazaruddin saat pelepasan mahasiswa di Helipad UMM pada Senin (21/7/2025) pagi.
Interaksi yang dimaksud adalah dialog antara mahasiswa dengan masyarakat untuk memelopori kesadaran akan pentingnya lumbung pangan dan kelestarian alam. “Negara yang kuat itu kan negara yang ketahanan pangannya tinggi,” ujarnya. Sebuah kalimat yang menempatkan program KKN ini dalam konteks pertahanan nasional, bukan lagi sekadar kegiatan kemahasiswaan.
Gagasan besar ini kemudian diterjemahkan ke dalam struktur yang rapi. Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi, PhD., menjelaskan bahwa program ini adalah buah sinergi lintas bidang di internal kampus, yang menghubungkan riset dan pengabdian dengan kemahasiswaan. Bahkan, meluas hingga ke kerja sama dengan Kementerian ATR/BPN untuk membantu pemetaan lahan-lahan publik di desa.
Namun, di tengah semua konsep besar dan kerja sama tingkat kementerian itu, esensi KKN tetap berada di pundak para mahasiswa seperti Ania dan Sasmita. Mereka yang akan berhadapan langsung dengan warga, yang akan menanam pohon, yang akan berdiskusi di balai desa, dan yang akan mencoba menyalakan api perubahan.
Saat upacara pelepasan ditutup, Rektor menitipkan pesan pamungkas. “Pesan saya ke mahasiswa cuma satu: menjaga kedisiplinan dan ketertiban, mengendalikan perilakunya, dan mengutamakan belajar sebanyak-banyaknya tentang apapun dari kehidupan masyarakat,” katanya.
Bagi Ania, Sasmita, dan 3.008 mahasiswa lainnya, perjalanan selama sebulan ke depan adalah pembuktian. Bukan hanya untuk almamater atau untuk selembar sertifikat, tetapi untuk membuktikan pesan Rektor bahwa “keintelektualan kampus itu justru adalah bukan terpisah dari masyarakatnya, tetapi justru semakin dekat dengan persoalan masyarakat.” Dan semua itu dimulai dari langkah pertama mereka, dengan sebatang pohon di tangan dan sejuta harapan di dada. [dan/aje]






