Mojokerto (beritajatim.com) – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Mojokerto terus mengembangkan program pembinaan warga binaan melalui Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE). Salah satu bentuk konkret dari program ini adalah pemberdayaan warga binaan dalam budidaya ikan lele yang kini menjadi sarana pembinaan kemandirian sekaligus dukungan terhadap ketahanan pangan nasional.
Kepala Lapas Kelas IIB Mojokerto, Rudi Kristiawan, meninjau langsung kolam budidaya lele yang terletak di area branggang, sebagai bagian dari evaluasi rutin. Peninjauan ini dilakukan untuk memastikan program pembinaan berjalan optimal dan memberikan manfaat nyata bagi warga binaan.
“Pembinaan di Lapas bukan sekadar rutinitas. Kami ingin setiap warga binaan punya keterampilan, punya bekal saat kembali ke masyarakat. Budidaya lele ini salah satu upaya kami menyiapkan mereka menjadi pelaku usaha mandiri. Di sini mereka tak hanya belajar beternak, tapi juga bagaimana memasarkan hasilnya,” ujarnya.
Melalui program SAE ini, warga binaan tak hanya dibekali keterampilan teknis budidaya ikan, tetapi juga pengetahuan kewirausahaan. Langkah ini sejalan dengan Asta Cita Presiden RI terkait pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) unggul yang berdaya saing dan produktif.
Lapas Kelas IIB Mojokerto memanfaatkan lahan kosong di dalam kompleks untuk membangun kolam budidaya. Hasil panen lele akan dimanfaatkan untuk kebutuhan internal serta sebagian dijual guna menambah pemasukan koperasi lapas.
“Ini bagian dari upaya pemberdayaan yang serius. Kami ingin mereka kembali ke masyarakat sebagai pribadi baru, yang bisa menjadi bagian dari solusi, bukan masalah,” pungkas Rudi. [tin/beq]






