Mojokerto (beritajatim.com) – Perkumpulan pengrajin perak di Desa Batangkrajan, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto, terus bertahan meski dihadapkan berbagai tantangan zaman. Perkumpulan yang berada di bawah naungan Kelompok Usaha Bersama (KUB) Majapahit Silver ini telah berdiri sekitar lima tahun dan resmi terdaftar di Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) sebelum pandemi Covid-19.
Saat ini, jumlah anggota tercatat sebanyak 30 orang, dengan 22 di antaranya masih aktif memproduksi secara rutin. Mayoritas berasal dari Desa Batangkrajan dan lima orang lainnya dari desa sekitar.
Salah satu pengrajin, Suwanta, mengungkapkan bahwa sebagian besar pengrajin merupakan generasi turun-temurun sejak era 1990-an. “Dulu waktu sekolah, kalau masuk pagi biasanya siang bantu kerja. Kalau masuk siang, paginya kerja di sini,” tuturnya, Sabtu (19/7/2025).
Keunggulan utama Majapahit Silver terletak pada pengerjaan manual, yang menghasilkan kerajinan bernilai seni tinggi dan sangat diminati wisatawan. Produk seperti cincin dan aksesoris lainnya masih dikerjakan secara tradisional, meski juga menerima pesanan dengan metode casting untuk memenuhi kebutuhan pasar.
“Perbedaan manual dan mesin, hasil lebih cepat kalau pakai mesin karena barang setengah jadi. Tapi kalau manual dari mulai 0. Kecepatan lebih cepat pakai mesin tapi kadang tamu minta yang klasik sehingga harus manual. Di Bali ada tamu dapat order, dikerjakan di sini. Kita masih menjaga kualitas, ada campuran tapi ada standar,” jelas Suwanta.
Produk mereka memiliki standar kadar perak 92,5 gram dan 7,5 gram tembaga. Sebagian besar pesanan berasal dari Bali, sementara permintaan dari Mojokerto masih ada namun terbatas. Menurut Suwanta, pesanan dari luar negeri belum pernah diterima hingga saat ini.
“Biasanya dari Bali pesanan masuk ke kita, lalu kita kerjakan di sini. Ada perkumpulan tapi sistem produksi dilakukan mandiri oleh masing-masing anggota. Setiap bulan ada jadwal rutin untuk berkumpul bersama membahas perkembangan dan permasalahan produksi. Satu anggota biasanya mempekerjakan satu hingga dua orang tenaga tambahan,” tambahnya.
Harga jual produk perak Majapahit Silver mengikuti harga pasar, yaitu sekitar Rp30 ribu hingga Rp35 ribu per gram. Meskipun sudah ada bantuan mesin, sebagian besar produksi tetap dilakukan secara manual karena harga bahan baku perak yang mahal dan keterbatasan modal.
“Kami berharap pemerintah melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) bisa memberikan dukungan lebih. Khususnya pelatihan bagi generasi muda agar ada regenerasi di dunia kerajinan perak. Karena saat ini cukup sulit mencari pengrajin baru karena banyak lulusan sekolah yang lebih memilih pekerjaan lain,” tutup Suwanta.
Pelatihan diharapkan mampu menarik minat generasi muda, sehingga kerajinan perak Batangkrajan tidak punah. Para pengrajin berharap usaha turun-temurun ini dapat terus berkembang dan menjadi identitas kerajinan khas Mojokerto. [tin/beq]







