Bojonegoro (beritajatim.com) – Tanaman Moringa Afrika, atau yang lebih dikenal sebagai kelor Afrika, yang dibudidayakan oleh Sulis (45), seorang warga Desa Batokan, Kecamatan Kasiman, Kabupaten Bojonegoro, berhasil menembus pasar ekspor hingga ke Thailand dan Malaysia.
Keberhasilan ini menandai potensi besar tanaman asal Kenya tersebut sebagai komoditas ekspor andalan dari Bojonegoro. Namun, tanaman tersebut kini belum banyak dibudidayakan di kota minyak.
Sulis, yang telah menekuni budidaya tanaman herbal dan hias selama puluhan tahun, tidak menyangka bahwa pohon Moringa Afrika yang awalnya hanya satu di halaman belakang rumahnya sejak tahun 1991, kini menjadi sumber pendapatan utamanya. Dari biji yang dihasilkan pohon tersebut, ia dengan tekun menyemai hingga menghasilkan bibit-bibit baru yang kini memenuhi kebunnya.
Permintaan akan bibit kelor Afrika dari kebun Sulis tidak hanya datang dari berbagai daerah di Indonesia, tetapi juga telah meluas ke mancanegara. “Pembeli dari Thailand dan Malaysia kerap memesan bibit Moringa Afrika dari sini,” ungkap Sulis saat ditemui di kediamannya, Senin (14/7/2025).
Fenomena ini sejalan dengan tren peningkatan ekspor produk kelor dari Indonesia ke pasar Asia Tenggara. Data menunjukkan adanya peningkatan nilai ekspor produk kelor ke Thailand dan Malaysia, menandakan bahwa pasar di negara-negara tersebut memiliki permintaan yang signifikan terhadap tanaman yang kaya manfaat ini.
Dalam sebulan, Sulis mengaku bisa mengirim antara 10 hingga 30 pohon Moringa Afrika. Harga yang dipatoknya pun bervariasi, tergantung pada ukuran dan usia tanaman. Untuk bibit berusia dua bulan dengan tinggi sekitar 20 cm, harganya berkisar antara Rp250 ribu hingga Rp500 ribu per pohon.
“Alhamdulillah, setiap bulan selalu ada permintaan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri,” ujar pria yang berprofesi sebagai dosen tersebut.
Tanaman Moringa Afrika (Moringa stenopetala) dikenal memiliki nilai estetika, ekonomi, dan kesehatan yang tinggi. Daun dan bijinya kaya akan nutrisi sehingga sering dimanfaatkan sebagai bahan obat herbal. Keunikan lainnya adalah bentuk batangnya. Jika masih berusia satu hingga tiga tahun, pertumbuhannya sangat cepat dan menjulang tinggi.
“Namun setelah melewati usia tiga tahun, batang bagian bawahnya mulai membesar, seperti menggendong,” jelas Sulis.
Kesuksesan Sulis dalam membudidayakan dan mengekspor Moringa Afrika menjadi bukti bahwa komoditas pertanian dari Bojonegoro memiliki daya saing di panggung internasional, sekaligus membuka peluang bagi petani lain untuk mengikuti jejaknya. [lus/but]






