Surabaya (beritajatim.com) — Matahari di langit jalan raya Cerme, Gresik, siang itu memanggang siapa saja yang berdiri terlalu lama di jalan raya.
Usai menunaikan salat Jumat, Zainal Abidin — yang di kalangan kawan-kawannya lebih akrab disapa Zainal Kopok — sempat berhenti sejenak di pinggir tambak, menonton orang-orang memanen ikan.
Saat itulah beberapa orang berpakaian tegap dan rapi mendekat. Tak banyak kata. Tangan mereka cekatan meraih lengan Zainal. Sekejap kemudian, dunia Zainal berubah hitam di balik penutup mata dan dibawa dengan mobil ke suatu tempat.
27 Juli 1996, sebuah tanggal yang menandai babak kelam
Bagi sebagian orang, kerusuhan 27 Juli 1996 — atau yang kini akrab disebut Kudatuli — sekadar catatan kronologi perlawanan anak-anak muda yang menentang kediktatoran Orde Baru (ORBA).
Bagi Zainal Kopok, Kudatuli adalah luka yang masih basah. Ia adalah aktivis Serikat Tani Nasional (STN), organisasi sayap Partai Rakyat Demokratik (PRD) Jawa Timur.
Kerusuhan di markas PDI di Jalan Diponegoro, Jakarta, menjadi titik awal Zainal berhadapan langsung dengan kerasnya tangan negara dalam membungkam aktivis pro demokrasi.
“Saya aktivis pertama PRD Jawa Timur yang diculik Bakorstanas, pasca kerusuhan Kudatuli di Jakarta,” ucap Zainal, suaranya berat, Selasa (15/7/2025).
Ia berbicara perlahan, seolah masih merangkai ulang serpihan ingatan yang bertebaran di antara dengung telinga kirinya yang sudah tak bisa lagi mendengar suara dunia.
Interogasi, darah, dan kertas yang sobek
Di suatu ruangan gelap, Zainal diinterogasi. Satu persatu pertanyaan dilontarkan, sebagian disertai tamparan, tendangan, pukulan. Telinganya pecah — darah merembes menodai kerah kemeja lusuhnya.
“Berita Acara Pemeriksaan (BAP) sampai mengulang dua kali setelah saya sebagai Ketua Legal STN Jatim tertangkap,” kenang Zainal.
Kertas BAP setebal 15 sampai 20 halaman, sudah rampung, ditandatangani. Tapi Zainal, yang keras kepala, tiba-tiba merobeknya.
Bagi Bakorstanas, sobekan itu penghinaan. Hukuman pun datang, dua kali lipat sakitnya. Di sudut ruangan dingin, Zainal merintih. Tapi ia menolak tunduk. Ia hanya mendengar gemuruh di dalam kepala, telinga kirinya perlahan menjadi sunyi — sunyi yang tak pernah pulih.
Dua minggu kemudian, tubuh ringkih itu dipindahkan ke tahanan Polrestabes Surabaya. Di sana, ia mendengar kabar: satu per satu kawan seperjuangannya mulai ditangkap.
Termasuk nama Adi Sutarwiyono — kala itu jurnalis Harian Surya, kini menjabat Ketua DPRD Surabaya — yang kerap berdiri di Jalan Pandegiling, di antara mimbar bebas, mendukung PDI Pro Mega.
Tiga puluh tahun berlalu, mimpi tak padam
Hari ini, Zainal Kopok tak lagi muda. Rambutnya memutih, tapi bara di matanya masih sama seperti tiga puluh tahun silam. Telinganya memang tak lagi mampu menangkap seluruh bunyi.
Tapi ia tetap mendengar panggilan zaman. Ia masih berkegiatan di jalur politik, aktif di ormas DPP Prabowo Budiman Bersatu (Prabu), meneruskan nyala api yang dulu nyaris dipadamkan di ruang interogasi.
Tak hanya itu. Zainal kini juga pegiat sosial dan lingkungan hidup. Baginya, politik tak melulu soal kursi dan jabatan.
Politik adalah ruang tempat suara rakyat kecil seharusnya paling nyaring terdengar — ironis, untuk seorang Zainal yang justru kehilangan pendengarannya karena memegang prinsip itu.
“Yang saya alami dulu, biar jadi pengingat bahwa kebebasan tidak pernah datang gratis,” tuturnya, menatap jauh ke arah langit.
Di telinga yang tuli itu, tersimpan nyanyian sunyi tentang perlawanan. Sementara di dada Zainal, sejarah tetap berdenyut. Dan sejarah, bagi Zainal Kopok, tak akan pernah mati. (ted)






