Surabaya (beritajatim.com) – Penanganan anak berkebutuhan khusus (ABK) di Indonesia masih banyak bergantung pada naluri dan pendekatan seadanya. Hal ini dinilai tidak memadai oleh Ukai Saito, pakar pendidikan ABK asal Jepang, dalam kuliah pakar yang digelar Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa).
Menurut Saito, Indonesia menghadapi persoalan besar yang kerap tak terlihat di permukaan. “Masalah anak berkebutuhan khusus di Indonesia seperti fenomena gunung es,” ujar Saito, Kamis (10/7/2025).
Ia menyebut, di Jepang sendiri terdapat ribuan kasus tragis di mana orang tua ABK bunuh diri karena merasa putus asa, khawatir tidak ada yang mampu merawat anak mereka kelak. Situasi ini, kata Saito, menjadi alarm penting bagi negara berkembang, termasuk Indonesia, untuk serius membenahi sistem dukungan terhadap ABK.
Dalam pemaparannya, Saito memperkenalkan metode Japanese Seven Key Points (J*sKeps), sebuah pendekatan ilmiah yang dirancang untuk meningkatkan kapasitas guru, terapis, dan orang tua dalam mendampingi ABK. Modul ini telah diadopsi di sejumlah negara Asia dan menekankan pada asesmen awal, keterlibatan orang tua, adaptasi lingkungan, hingga evaluasi perkembangan anak.
“Banyak perlakuan terhadap ABK yang keliru tapi dianggap wajar,” tegas Saito, yang juga merupakan konsultan dari Tasuc Corporation Jepang itu.
Ia mencontohkan kebiasaan orang dewasa menggenggam tangan anak lalu menyeretnya berjalan. “Yang benar, tangan kita diulurkan dan biarkan anak yang menggenggam. Itu berarti kita memberi mereka kendali,” jelasnya.
Kuliah pakar ini tak hanya menyajikan teori, tetapi juga praktik langsung. Saito mengajarkan teknik memegang pensil dan gunting yang benar untuk melatih motorik halus anak. Ia bahkan mendemonstrasikan teknik memotong kertas, di mana tangan dominan memegang gunting sementara tangan lain yang menarik kertas, bukan sebaliknya.
Ia juga menyoroti cara mewarnai yang tepat dalam pengembangan koordinasi motorik anak. “Warnailah bidang terbesar dulu, lalu ke yang lebih kecil. Ini penting untuk melatih konsentrasi secara bertahap,” ungkapnya.
Melalui kegiatan ini, Saito berharap pendekatan ilmiah terhadap ABK dapat lebih dikenal dan diterapkan di Indonesia. Ia juga menyerukan kepada pemerintah untuk memberikan perhatian lebih serius pada isu ini, demi masa depan anak-anak yang sering kali terabaikan dalam sistem pendidikan formal. [ipl/but]






