Sumenep (beritajatim.com) – Dapur satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) pertama untuk program makan bergizi gratis (MBG) di Kabupaten Sumenep resmi mulai dibangun di Pulau Kangean. Kehadiran dapur ini menjadi tonggak penting upaya pemenuhan gizi bagi anak-anak sekolah dan kelompok rentan di wilayah kepulauan Madura.
Pembangunan dapur SPPG tersebut diinisiasi oleh Yayasan Nurul Islam yang menjadi mitra mandiri Badan Gizi Nasional (BGN). Lokasinya berada di Desa Arjasa, Kecamatan Arjasa, yang merupakan pusat aktivitas masyarakat di Pulau Kangean.
Ketua Yayasan Nurul Islam, Faruk Effendi, menyampaikan dapur SPPG ini dibangun sebagai bentuk komitmen yayasan untuk memperluas peran sosial dan kesehatan masyarakat, tidak hanya terbatas pada bidang pendidikan.
“Ini merupakan bagian dari penguatan peran yayasan dalam bidang sosial dan kesehatan masyarakat, khususnya bagi anak-anak usia sekolah dan kelompok rentan lainnya,” kata Faruk, Kamis (10/07/2025).
Meski demikian, pembangunan dapur MBG pertama di kepulauan ini tidak lepas dari tantangan. Salah satunya terkait penyediaan material bangunan yang harus didatangkan dari daratan Sumenep, bahkan sebagian dari Situbondo.
“Ya karena ini di kepulauan, tentu saja penyediaan materialnya lebih sulit dibanding daratan. Kami masih harus mengambil bahan di Sumenep daratan. Kadang malah ke Situbondo,” ungkapnya.
Yayasan Nurul Islam selama ini dikenal fokus mengelola lembaga pendidikan, mulai dari Madrasah Ibtidaiyah, Taman Kanak-Kanak, hingga Madrasah Tsanawiyah. Namun saat ada pembukaan pendaftaran mitra SPPG oleh BGN, pihaknya melihat peluang tersebut sebagai jalan untuk memperluas kontribusi yayasan ke bidang gizi dan kesehatan.
“Nah, saat ada pembukaan pendaftaran mitra SPPG dari BGN, kami melihat itu sebagai peluang untuk memperluas kontribusi yayasan dalam bidang gizi dan kesehatan,” terangnya.
Dalam program ini, Yayasan Nurul Islam mengajukan data sebanyak 3.387 siswa dari jenjang TK, SD, SMP, hingga SMA sebagai sasaran penerima manfaat MBG. Data tersebut diambil dari Data Pokok Pendidikan (Dapodik) sebelum masa libur sekolah. Ke depan jumlah penerima manfaat bisa saja berubah setelah dilakukan monitoring langsung ke sekolah-sekolah.
“Untuk jumlah sasaran penerima MBG yang kami ajukan itu bisa saja nanti berubah, karena data itu berdasarkan Dapodik saat sebelum masa libur sekolah. Nanti akan ada monitoring dulu ke sekolah-sekolah sasaran,” paparnya.
Program ini juga direncanakan akan diperluas untuk mencakup ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, guna memastikan kelompok paling rentan di kepulauan turut mendapatkan perhatian pemenuhan gizi.
Pembangunan dapur SPPG di Desa Arjasa ditandai dengan peletakan batu pertama pada 22 Juni 2025 lalu, dan hingga kini prosesnya terus berjalan. Yayasan Nurul Islam ditargetkan menyelesaikan pembangunan dapur tersebut dalam waktu sekitar 45 hari setelah memperoleh ID SPPG dari BGN.
“Setelah mendapat ID SPPG dari BGN (Badan Gizi Nasional), kami memiliki waktu sekitar 45 hari untuk penyelesaian gedung tersebut,” ujarnya. [tem/beq]






