Surabaya (beritajatim.com) – Minimnya regenerasi petani menjadi persoalan serius yang tengah dihadapi sektor pertanian Indonesia. Hal ini disampaikan langsung oleh Suwono (70), seorang petani asal Desa Sumorame, Kabupaten Sidoarjo. Ia menilai anak-anak muda masa kini enggan melanjutkan profesi orang tua sebagai petani karena menganggap pekerjaan tersebut berat, kurang menguntungkan, dan tidak bergengsi.
“Banyak (anak muda) yang nggak mau jadi petani, maunya mereka kerja jadi pegawai saja seperti di kantor gitu,” ujar Suwono saat ditemui di sela acara nonton bareng film Seribu Bayang Purnama yang digelar oleh Perempuan Indonesia Peduli (IPIP) bekerja sama dengan Perkumpulan Penyelenggara Jasaboga Indonesia (PPJI) Provinsi Jawa Timur dan Kota Surabaya, Selasa (8/7/2025).
Suwono juga mengakui bahwa anak-anaknya sendiri tidak ada yang tertarik melanjutkan profesinya sebagai petani. Padahal, menurutnya, pertanian adalah sektor penting yang menjadi penopang ketahanan pangan nasional.
Menanggapi hal tersebut, Founder PPJI Kota Surabaya Asrilia Kurniati mengakui bahwa regenerasi petani memang menjadi tantangan yang nyata. Karena itu, pihaknya sebagai pelaku usaha jasa boga terus berupaya membantu para petani agar tetap bertahan dan produktif.
“Misalnya dari kami (pengusaha jasa boga) membeli beras langsung dari petani untuk kebutuhan katering. Itu selalu kami lakukan,” ujar Asrilia.
Ia berharap melalui acara nonton bareng film Seribu Bayang Purnama, semangat para petani, khususnya keluarga petani muda, bisa kembali terbangun. Film tersebut mengangkat kisah nyata tentang perjuangan anak seorang petani yang mampu bertahan dan berdaya.
“Film Seribu Bayang Purnama ini kan kisah nyata tentang anak petani. Semoga bisa lebih menginspirasi para petani untuk lebih semangat bekerja,” tandas Asrilia.
Acara tersebut dihadiri oleh sejumlah petani dari berbagai daerah di Jawa Timur, sebagai bentuk apresiasi sekaligus upaya memotivasi agar sektor pertanian tak kehilangan generasi penerusnya. [way/ian]






