Malang (beritajatim.com) – Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB UB) dipercaya sebagai penyelenggara resmi Japanese-Language Proficiency Test (JLPT) 2025 untuk wilayah Malang yang digelar serentak secara global. Sebagai tes kemampuan bahasa Jepang berstandar internasional, JLPT dilaksanakan secara serentak di seluruh dunia dua kali setahun, yakni pada minggu pertama Juli dan Desember.
Untuk wilayah Malang, pelaksanaan ujian tersebar di tiga titik lokasi, yaitu FIB UB, STIE Malang Kucecwara (ABM), dan SMK Negeri 2 Malang. Dr. Aji Setyanto, S.S., M.Litt., Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kewirausahaan Mahasiswa FIB UB menjelaskan bahwa pelaksanaan JLPT ini memerlukan manajemen yang solid.
“Karena skala ujian sangat besar dan waktunya bersamaan di seluruh dunia jadi harus solid. Di wilayah Malang saja, peserta mencapai lebih dari 3.000 orang,” jelas Dr. Aji Setyanto yang juga bertindak sebagai Penanggung Jawab Wilayah JLPT Malang.
Untuk mengakomodasi jumlah peserta yang sangat besar, FIB UB membagi lokasi pelaksanaan berdasarkan level JLPT FIB UB: untuk peserta level N4, STIE Malang Kucecwara (ABM) untuk level N1, N2, dan N5, kemudian SMK Negeri 2 Malang untuk level N3 dan sebagian N4.
Pembagian lokasi ini disesuaikan dengan kapasitas dan kebutuhan teknis masing-masing level. Dr. Aji memastikan bahwa seluruh tempat ujian telah memenuhi standar kenyamanan dan keamanan bagi peserta.
Menariknya, peserta JLPT di Malang tidak hanya berasal dari kota-kota di Jawa Timur, tetapi juga dari berbagai provinsi lain, seperti Jakarta hingga Aceh. Malang menjadi pilihan karena kombinasi antara reputasi akademik yang kuat dan daya tarik wisata kotanya.
Kesuksesan pelaksanaan JLPT di Malang tak lepas dari keterlibatan lebih dari 300 orang pengawas dan asisten pengawas. Mereka terdiri dari dosen, guru, hingga alumni program studi bahasa Jepang dari UB, UNESA, dan kampus lain di Jawa Timur.
Para asisten pengawas juga berasal dari tenaga kependidikan, staf institusi mitra, hingga relawan berpengalaman dalam ujian nasional maupun ujian masuk perguruan tinggi.
“Koordinasi lintas lokasi, lintas jenjang, dan lintas institusi menjadi kunci sukses pelaksanaan. Ini bukan hanya soal teknis, tetapi juga komitmen kolektif,” tambah Dr. Aji.
JLPT merupakan tes yang dikelola sepenuhnya oleh Japan Foundation. Seluruh materi soal, distribusi, hingga pemrosesan hasil ujian telah terstandarisasi. Lembar jawaban peserta dikirim langsung ke Jepang untuk dikoreksi secara digital, dan hasilnya akan dikirim kembali ke panitia lokal untuk disampaikan kepada peserta.
Saat ini, JLPT diselenggarakan secara resmi di 14 kota besar di Indonesia, termasuk Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Malang, Denpasar, dan Medan. Penambahan titik lokasi ujian menunjukkan semakin besarnya minat masyarakat terhadap penguasaan bahasa Jepang yang kredibel dan bersertifikat.
“Tes ini bukan hanya soal menjawab soal, tetapi soal membangun kepercayaan dan kredibilitas dalam skala global. Dan FIB UB telah menunjukkan kapasitas itu,” kata Dr. Aji menutup. (dan/but)






