Bondowoso (beritajatim.com) – Di usia senjanya, Sukardi (68), warga Desa Binakal, Kecamatan Binakal, Bondowoso, memilih jalan hidup yang tak biasa.
Setelah bertahun-tahun menggembala bebek di sawah-sawah, kondisi kesehatannya memaksanya mencari cara lain. Kini, ia beternak bebek di pekarangan rumahnya—dengan sistem tradisional dan sepenuh hati.
“Dulu saya angon, jalan kaki jauh-jauh. Tapi karena kesehatan saya makin menurun, saya beralih ke sistem penetasan sendiri. Mulai dari 50 ekor, sekarang bisa panen telur setiap hari,” ujar Sukardi sambil menaburkan pakan di kandang sederhana miliknya.
Setiap pagi, sekitar 44 hingga 46 butir telur bebek ia panen. Tidak hanya dijual dalam bentuk mentah, jika ada pesanan, Sukardi juga mengolahnya menjadi telur asin—yang dijual seharga Rp2.500 per butir. Sedangkan telur bebek biasa ia jual Rp2.000.
Keuntungannya pun lumayan untuk ukuran usaha rumahan. Setiap hari, ia mengeluarkan sekitar Rp40 ribu untuk pakan.
Sedangkan omzet penjualan hariannya mencapai Rp98 ribu per hari. Sehingga ia bisa mengantongi untung bersih di atas Rp50 ribu per hari.
“Pakannya bekatul, grantil, dan voor pagi-sore. Paling penting ada pakan tambahan biar produksi telurnya stabil,” jelasnya.
Dalam beternak, Sukardi masih menerapkan pola tradisional. Dari 50 ekor bebek, hanya dua di antaranya yang jantan. Cukup, katanya. Sebab dalam satu sistem tradisional, satu pejantan bisa membuahi hingga 24 betina.
Jika ada bebek yang sudah tak produktif, terutama yang jantan, ia jual ke pasar sebagai tambahan penghasilan. Namun, semangat Sukardi bukan semata soal bertahan. Ia punya harapan besar.
“Saya ingin menambah jumlah ternak. Tapi ya harapannya ada bantuan dari pemerintah. Baik dari desa maupun kabupaten. Biar usaha ini bisa berkembang dan lebih kuat,” ucapnya penuh harap.
Sukardi adalah cermin dari para peternak kecil yang masih menjaga cara-cara lama dalam beternak, namun tetap terbuka pada perubahan.
Di tengah usia senja, ia tak berhenti berusaha. Dari kandang sederhana di belakang rumahnya, ia membuktikan: selama masih punya kemauan dan keyakinan, rezeki bisa datang dari mana saja. (awi/ian)






