Probolinggo (beritajatim.com) – Suasana haru pecah di Desa Tambakrejo, Kecamatan Tongas, Kabupaten Probolinggo, saat Dimas Lukito Wardhana, atlet Muaythai kebanggaan Indonesia, pulang kampung usai menjuarai Asian Muaythai Championship 2025 di Vietnam. Tidak dengan mobil mewah atau sambutan resmi, melainkan gerobak sederhana milik tetangga yang ditarik sepeda motor oleh sang kakak, mengantar Dimas keliling desa diiringi sorak-sorai warga.
Ajang bergengsi tingkat Asia yang digelar pada 20–26 Juni 2025 itu mempertemukan petarung terbaik se-benua. Dimas tampil luar biasa dan sukses meraih medali emas, membuat bendera Merah Putih berkibar di podium tertinggi.
Bagi orang tuanya, Bani Syarifuddin dan Supiyatun, keberhasilan Dimas adalah jawaban dari doa panjang dan pengorbanan sejak sang anak kecil.
“Dulu pas berangkat ke Vietnam, Dimas sempat bilang ini hanya coba-coba ikut,” kata Bani, dengan suara bergetar saat ditemui di rumahnya pada Rabu (2/7/2025). “Saya tidak menyangka hasilnya bisa sejauh ini,” lanjutnya, menahan tangis bangga.
Sejak kecil Dimas dikenal aktif dan tak pernah lelah belajar berbagai bela diri. Ia memulai dari silat di kampung, lalu beralih ke Muaythai saat SMA. Meski berasal dari desa, semangatnya menembus batas. Kini, ia tengah menempuh kuliah Ilmu Keolahragaan di Universitas Negeri Surabaya melalui beasiswa prestasi.
Tak ada panggung megah di Tambakrejo, tapi antusiasme warga terasa begitu tulus. Mereka berbaris di pinggir jalan, membawa bendera, mengibarkannya tinggi sambil mengeluarkan klakson motor berulang-ulang. Gerobak sederhana itu dihias seadanya, namun justru memancarkan kebanggaan mendalam.
“Buat kami, ini sudah luar biasa. Anak desa bisa harumkan nama bangsa, kami patut bangga,” ucap Bani, matanya kembali berkaca-kaca.
Tak hanya berhenti berprestasi, Dimas kini juga mulai melatih atlet-atlet Muaythai muda di Kabupaten Probolinggo. Ia ingin ilmu yang diperoleh dari gelanggang Asia bisa ditularkan agar semakin banyak petarung hebat lahir dari desa-desa.
Bani berharap ada dukungan lebih dari pemerintah desa maupun kabupaten untuk anak-anak seperti Dimas. Baginya, perjuangan anak desa tak kalah gigih, dan ketika berhasil, semestinya dapat menjadi inspirasi kuat bagi generasi muda Probolinggo agar terus bermimpi tinggi dan bekerja keras mewujudkannya. [ada/beq]






