Gresik (beritajatim.com) – Dua komoditas utama yakni cabai rawit, dan bawang merah menjadi pemicu utama inflasi Gresik di bulan Juni 2025. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) setempat. Cabai rawit penyumbang terbesar dengan prosentase 38,64% sementara bawang merah 13,61%. Kedua komoditas ini mengalami lonjakan imbas terganggunya distribusi serta belum meratanya musim panen.
Kepala BPS Gresik, Indriya Purwaningsih mengatakan, inflasi ini masih dalam batas aman dan terkendali.
“Meski kedua komoditas itu terdapat gejolak harga. Namun, secara keseluruhan laju inflasi Gresik masih berada di bawah target inflasi nasional sebesar 2,5 persen ±1 persen,” katanya, Selasa (1/7/2025).
Lebih lanjut Indriya menuturkan, inflasi tahunan disebabkan oleh kenaikan harga di sebagian besar kelompok pengeluaran, terutama pada kelompok makanan, minuman dan tembakau yang mencatat inflasi 1,41% dan memberikan andil tertinggi sebesar 0,48 persen terhadap inflasi umum.
“Komoditas yang paling mendorong inflasi antara lain beras, cabai rawit, bawang merah, minyak goreng, dan santan jadi,” tuturnya.
Sementara pada kelompok kesehatan lanjut dia, juga mengalami inflasi tahunan tertinggi yakni 7,97%. Ini disebabkan oleh kenaikan tarif layanan kesehatan seperti rumah sakit, dokter umum, dan dokter spesialis.
“Secara bulanan (month-to-month/m-to-m), Gresik mencatat inflasi sebesar 0,48%. Komoditas utama penyumbang inflasi bulanan yakni bawang merah 13,61%, cabai rawit 38,64%, dan beras 2,08% yang mengalami lonjakan harga akibat terganggunya distribusi, dan belum meratanya musim panen di seluruh kecamatan,” urainya.
Pemicu tersebuta imbuh Indriya, turut dipengaruhi oleh aksi demonstrasi sopir truk ODOL (Over Dimension Over Load) yang berdampak pada distribusi pangan antardaerah, serta fluktuasi harga BBM nonsubsidi yang mengalami penurunan namun belum cukup menahan laju inflasi.
“Gresik saat ini berada di fase awal musim tanam padi, sementara panen raya belum merata. Hal ini turut memicu kenaikan harga beras di pasaran,” tambahnya.
BPS juga mencatat bahwa komoditas seperti ikan mujair, daging ayam ras, udang basah, dan bensin menjadi penahan inflasi dengan tren harga yang cenderung menurun.
“Kami mengimbau pemerintah daerah dan seluruh stakeholder untuk terus memantau dinamika harga, khususnya menjelang semester dua, agar inflasi tetap terkendali,” pungkas Indriya. [dny/ian]






