Tuban (beritajatim.com) – Dinas Kesehatan, Pengendalian, Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Kabupaten Tuban menggelar Rembuk Stunting tahun 2025 di Pendapa Kridha Manunggal Tuban, Kamis (26/06/2025).
Acara ini dibuka langsung oleh Bupati Tuban Aditya Halindra Faridzky, S.E., dan turut dihadiri Wakil Bupati Drs. Joko Sarwono, Forkopimda Tuban, Sekretaris Daerah, para pimpinan OPD, serta seluruh camat se-Kabupaten Tuban.
Kepala Dinkes P2KB Tuban, Esti Surahmi menyebut bahwa Rembuk Stunting merupakan agenda tahunan yang melibatkan berbagai pihak, seperti kepala puskesmas, perwakilan perusahaan, akademisi, BKKBN Jatim, organisasi profesi, kader posyandu, organisasi perempuan, hingga Duta GenRe.
“Angka stunting di Kabupaten Tuban pada tahun 2024 adalah 11,3 persen, yang merupakan penurunan signifikan dari tahun-tahun sebelumnya,” ujar Esti Surahmi.
Ia memaparkan bahwa angka prevalensi stunting di Tuban terus menunjukkan tren positif sejak tahun 2021. Saat itu, prevalensi mencapai 25,1 persen, menurun menjadi 24,9 persen pada tahun 2022, lalu turun lagi ke 17,8 persen pada tahun 2023.
“Angka prevalensi stunting di Kabupaten Tuban lebih baik dibandingkan Jawa Timur yaitu 14,7 persen maupun nasional yaitu 19,8 persen,” terang Esti.
Ia menambahkan bahwa sebelum rembuk stunting di tingkat kabupaten dilaksanakan, telah digelar rembuk serupa di tingkat desa/kelurahan serta kecamatan. “Hasilnya, tiap tingkatan akan dikaji pada rembuk stunting tingkat kabupaten. Dengan begitu, akan terjadi keselarasan program antara pemerintah daerah hingga pemerintah desa,” imbuhnya.
Bupati Tuban yang akrab disapa Mas Lindra menegaskan pentingnya rembuk ini sebagai sarana memperkuat komitmen kolektif dalam penanggulangan stunting di daerah.
“Sebab, persoalan stunting menjadi tanggung jawab kita bersama, oleh karenanya, diperlukan aksi yang terukur dan terarah agar membawa dampak nyata,” tutur Mas Lindra.
Ia juga menekankan pentingnya dukungan dari berbagai lapisan masyarakat, termasuk instansi pemerintah, dunia usaha, organisasi profesi dan kemasyarakatan, serta peran keluarga. “Perlu kolaborasi bersama dalam membangun generasi penerus,” tambahnya.
Mas Lindra turut menyoroti kontribusi dunia pendidikan dalam menurunkan angka stunting. Menurutnya, program Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari perguruan tinggi di Tuban bisa menjadi sarana efektif untuk memberikan edukasi langsung kepada masyarakat.
“Kami mengajak generasi muda di Kabupaten Tuban untuk turut serta mengkampanyekan cegah stunting. Terutama peran generasi muda akan memberi sudut pandang dan pendekatan lain. Serta, memberikan edukasi dengan cara yang kekinian,” pungkasnya. [dya/ian]






