Jombang (beritajatim.com) – Gedung Graha Bhakti Bhayangkara Polres Jombang terasa berbeda dari biasanya, Rabu malam (25/6/2025). Tak ada hiruk-pikuk penegakan hukum, tak ada denting formalitas upacara.
Yang ada hanyalah ratusan orang duduk bersila di atas tikar, menyatu dalam kebersamaan dalam satu wadah yang hangat: Liwetan Bhayangkara.
Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Bhayangkara ke-79, suasana di Polres Jombang terasa lebih teduh dari biasanya. Bukan karena dinginnya malam, tapi karena hangatnya silaturahmi yang terjalin dalam acara liwetan yang diadakan bersamaan dengan menyambut datangnya Tahun Baru Islam, 1 Muharram 1447 H.
Tampak hadir para tokoh penting dalam acara tersebut. Kapolres Jombang AKBP Ardi Kurniawan duduk berdampingan dengan para pejabat Forkopimda, di antaranya Kakesbangpol Jombang Anwar, Ketua IPSI M. Budi Setiawan, Kasdim 0814 Mayor Cke Nurhadi, dan Lettu Yusuf Maulana yang mewakili Dansatradar Kabuh. Tak ketinggalan Wakapolres Kompol Christian Bagus Yulianto serta para pejabat utama Polres dan seluruh Kapolsek se-Jombang.
Namun yang paling istimewa dari malam itu adalah kehadiran para ketua dan pengurus perguruan pencak silat yang tergabung dalam forum Paguyuban Pencak Silat Jombang Beriman (PSJB). Mereka datang bukan sebagai pesaing antarperguruan, tetapi sebagai saudara sebangsa yang duduk dalam satu lingkaran, menyantap nasi liwet dari daun pisang, menyatukan niat demi kedamaian Jombang.
“Doa bersama dan liwetan ini bukan hanya untuk menyambut HUT Bhayangkara atau 1 Muharram,” ujar AKBP Ardi dalam sambutannya, “tetapi sebagai ikhtiar menciptakan suasana kamtibmas yang kondusif menjelang tradisi Suroan yang kerap jadi momentum rawan gesekan.”
Ardi menegaskan, akan ada banyak kegiatan yang berlangsung di Jombang pada peringatan 1 Muharram. Oleh karena itu, silaturahmi dan koordinasi lintas unsur menjadi penting agar potensi konflik bisa dicegah sejak dini. “Kami sangat berharap, semua pihak bisa turut menjaga keamanan dan ketertiban sehingga Jombang tetap aman dan kondusif,” tambahnya.

Sementara itu, Anwar, mewakili Pemerintah Kabupaten Jombang, menyampaikan apresiasi kepada Polres atas inisiatif mulia ini. “Dengan acara ini, semoga bisa terbangun rasa guyub dan rukun antarperguruan. Jombang harus jadi contoh bagaimana perbedaan bisa dirajut dalam bingkai harmoni,” ujarnya.
Liwetan malam itu bukan sekadar makan bersama. Ia menjadi simbol keakraban yang melampaui seragam dan aliran perguruan. Bahwa di atas segala perbedaan, ada tekad bersama menjaga bumi Jombang dari perpecahan.
Sebagai penutup, suasana semakin hangat ketika undian door prize dibagikan. Tawa dan tepuk tangan menggema, seakan mengamini harapan bersama: semoga kedamaian tak hanya berlangsung malam itu, tetapi menjadi budaya di setiap peringatan Suroan dan hari-hari mendatang.
Di atas nasi liwet dan dalam balutan persaudaraan, malam itu Jombang menunjukkan wajah terbaiknya—sebuah kota yang damai karena warganya mau duduk bersama. [suf]






