Makassar (beritajatim.com) – Malam di Kampung Adat Malasigi, sebuah permata tersembunyi di pelosok Papua Barat Daya, tak lagi sama. Dulu, hanya temaram obor yang menemani mimpi anak-anak setelah seharian belajar di sekolah yang jauh. Kegelapan seolah membatasi cakrawala mereka.
Namun, kini, di tengah rimbunnya hutan tropis yang lebat, cahaya lampu tenaga surya memancar, menerangi setiap sudut kampung dan, yang terpenting, harapan di mata setiap anak.
Kisah perubahan ini berawal dari seorang penjaga hutan, seorang pemimpin sejati bernama Menase Fami. Kepala Kampung Persiapan Malasigi dan Ketua Lembaga Pengelola Hutan Kampung (LPHK) ini adalah jantung dari denyut kehidupan masyarakat suku Fami.
Bagi mereka, hutan bukan hanya tempat mencari nafkah, melainkan “mama”—ibu yang memberikan kehidupan, melindungi, dan merawat. Melestarikan hutan adalah napas, identitas, dan warisan tak ternilai dari leluhur.
“Terima kasih kepada pemerintah yang memberikan amanah kepada kami sebagai pemegang hak kelola hutan Malasigi,” ucap Menase dengan nada tulus, suaranya sarat dengan kebanggaan.
“Kami berkomitmen melalui ekowisata untuk menjaga keberkahan ini.” Perjalanannya tak mudah. Ingatannya melayang ke masa lalu, saat mereka harus berburu babi dan rusa, menjualnya ke Distrik Klayili, demi mengumpulkan modal membangun toilet sederhana untuk menyambut wisatawan. Sebuah perjuangan yang lahir dari swadaya, dari semangat untuk mandiri.
Sejak 2008, Malasigi mulai membuka diri untuk wisata. Para bule, pencinta lingkungan dan petualang, berdatangan, terpesona oleh hutan yang lebih aman dari predator buas dan keunikan lima jenis burung Cenderawasih yang dilindungi. Mereka rela menyewa mobil double garda seharga Rp 2 jutaan dan menempuh perjalanan 2 jam dari Sorong, hanya untuk merasakan sensasi menangkap ikan gurami dengan tombak, berburu, atau menyucikan diri di sumber air panas Sungai Belempe yang sakral. Batasan adat justru menjadi daya tarik, menambah nuansa petualangan otentik.
Keringat Menase dan seluruh warga Malasigi berbuah manis. Setiap minggu, 50 hingga 150 wisatawan mancanegara singgah, bahkan menginap hingga sepekan penuh. Dampaknya luar biasa. Anak-anak Malasigi yang sebelumnya mungkin hanya bermimpi, kini bisa bersekolah dengan seragam lengkap, berkat beasiswa dari hasil kunjungan wisata. Namun, tantangan selalu ada. Malam hari, setelah lelah berjalan kaki 2 km menuju sekolah di Distrik Klayili, mereka masih harus belajar di bawah remang obor.
“Kami pun tak kehilangan akal. Kami beli genset agar bisa menerangi kampung,” kenang Menase saat bercerita dalam.acara Media Gathering Regional Indonesia Timur Subholding Upstream Pertamina 2025 di Makassar pada Senin (236/2025)
Senyumnya mengembang saat mengingat wajah gembira anak-anak yang bisa belajar lebih leluasa. Lampu-lampu menyala, tak hanya di rumah, tapi juga di wajah para turis yang senang melihat kampung menjadi terang. Namun, kebahagiaan itu datang dengan harga. Biaya operasional genset, terutama solar yang harus dibeli jauh di Sorong dengan ongkos mahal, membengkak hingga Rp40-50 juta per bulan. Sebuah beban yang mencekik.
Di sinilah PT Pertamina Hulu Energi (PHE) datang membawa secercah harapan. Melalui program Desa Energi Berdikari (DEB) Papua Community Mata Hati Malasigi, yang diresmikan pada 20 Januari 2025, krisis energi itu menemukan titik terang.
“Program ini bukan hanya tentang energi bersih, tapi tentang menopang ekonomi dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” ujar Elvina Winda Sagala, Manager CSR Pertamina Hulu Energi. PLTS berkapasitas 8,72 kilowatt peak (kWp) itu kini menjadi jantung baru Malasigi, mengubah solar yang mahal menjadi cahaya abadi dari matahari.
Dampaknya tak hanya pada lampu yang menyala. Penggunaan BBM berkurang drastis, menghemat Rp36 juta per tahun dan mengurangi emisi karbon. LPHK Belempe juga merasakan peningkatan pendapatan yang signifikan, dari Rp1 juta menjadi Rp4 juta per bulan.
Lebih dari itu, perubahan yang paling menyentuh adalah pada kehidupan sosial: 15 keluarga rentan diberdayakan, 3 unit usaha baru muncul, angka pengangguran berkurang, dan masyarakat semakin kreatif dalam mengelola hutan secara berkelanjutan. Anak-anak Malasigi tak lagi belajar dalam gelap. Mereka punya waktu lebih untuk membaca, berkreasi, dan bermimpi.
“Kami pun selalu mendukung KKKS untuk melakukan CSR penghijauan yang tentunya penting untuk mengurangi emisj gas karbon,” tandas Hudi D Suryodipuro, Kepala Divisi Program & Kominikasi SKK Migas.[rea]






