Bondowoso (beritajatim.com) – Kuda biasanya dikenal sebagai hewan tunggangan atau alat angkut barang. Namun di Kecamatan Botolinggo, Kabupaten Bondowoso, hewan ini menjadi bagian dari pertunjukan budaya yang unik dan mendebarkan. Atraksi yang dikenal dengan sebutan Jeren Kencak itu digelar dalam momen peresmian jembatan penghubung antara Desa Gayam dan Desa Lanas pada Kamis, 19 Juni 2025.
Warga lokal lebih mengenalnya dengan istilah Jeren Kencak, meski di sejumlah tempat juga disebut Jaran Kencak atau Kuda Kencak. Intinya sama—atraksi seni di mana kuda yang telah dihias tampil menari dan menunjukkan gerakan luwes di hadapan penonton.
Sebanyak 10 ekor kuda tampil dalam pertunjukan tersebut, menarik perhatian warga yang duduk mengelilingi area pertunjukan. Salah satu atraksi yang memancing decak kagum adalah ketika seekor kuda berjalan menggunakan dua kaki belakangnya, sementara kedua kaki depannya diangkat, meniru langkah manusia. Sorakan dan tepuk tangan langsung membahana.
Namun, bukan hanya kekaguman yang dirasakan. Beberapa aksi bahkan memacu ketegangan. Misalnya, saat sang pawang tidur di atas perut kuda yang dalam posisi berbaring. Ada pula atraksi ekstrem di mana kepala pawang diletakkan tepat di antara dua kaki depan kuda. Saat kaki kuda bergerak mendadak, suasana menjadi menegangkan.
Banyak yang paham bahwa tendangan kuda dikenal sangat kuat. “Cukup satu tendangan untuk melumpuhkan seekor hyena. Apalagi manusia?” begitu celoteh salah satu penonton yang sempat menahan napas melihat adegan itu.
Untungnya, hingga akhir pertunjukan semua berjalan lancar. Para pawang menyelesaikan aksinya dengan wajah penuh senyum dan tawa, sementara penonton meninggalkan lokasi sambil membahas aksi mendebarkan yang baru saja mereka saksikan.
Kepala Desa Lanas, Mahraji, menjelaskan bahwa budaya Jeren Kencak sudah turun-temurun dilestarikan oleh masyarakat. “Sebagai apresiasi, pengusaha Jeren Kencak memasang tarif. Biasanya Rp500 ribu per kuda,” ungkap Mahraji.
Ia menambahkan bahwa penonton juga diperbolehkan menyawer para pawang selama pertunjukan berlangsung. “Rp2 ribu pun boleh. Terserah penonton,” tambahnya.
Atraksi budaya seperti Jeren Kencak bukan hanya menjadi hiburan warga, tetapi juga cermin kekayaan seni tradisional yang masih hidup di tengah masyarakat pedesaan. [awi/ian]






