Mojokerto (beritajatim.com) – Suasana haru menyelimuti kediaman Gus Samsudin di Desa Kedungmaling, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto.
Rumah duka tampak dipadati kerabat dan warga yang turut berempati. Mereka membantu persiapan penyambutan jenazah Azmil Mukarromah (45), istri Gus Samsudin yang menjadi korban meninggal dunia dalam tragedi tersebut.
“Iya, satu keluarga. Kepala keluarganya Gus Samsudin, bersama istri, dua anak dan satu keponakan. Ceritanya mereka jemput anaknya yang mondok di Pondok Tremas, terus sekalian liburan ke pantai,” terang Kepala Desa Kedungmaling, Edy Prabowo, saat dikonfirmasi, Jumat (20/6/2025).
Edy mengungkapkan, rombongan tersebut kemungkinan besar tidak menyadari bahaya ombak besar yang sering mengancam kawasan muara sungai, apalagi saat musim libur sekolah.
Tanpa diduga, gelombang tinggi datang secara tiba-tiba dan menyeret lima anggota keluarga ke tengah arus.
“Istrinya sudah ditemukan, tapi dalam kondisi meninggal dunia. Gus Samsudin selamat karena tidak ikut mandi di laut. Tiga lainnya, dua anak kelahiran 2008 dan 2014, serta satu keponakan, masih dalam pencarian,” tambahnya.
Korban yang belum ditemukan diketahui bernama Aisyah, Azkia, dan Nayaifah. Keponakan dari keluarga tersebut merupakan warga Surabaya, namun tinggal di Pondok Pesantren Riyadlul Quran yang juga berlokasi di Desa Kedungmaling.
“Keponakannya memang warga Surabaya, tapi sekarang tinggal di pondok di sini. Jadi masih satu lingkungan dengan keluarga Gus Samsudin,” jelas Edy.
Hingga Jumat sore, pencarian terhadap tiga korban masih terus dilakukan oleh tim gabungan dari Basarnas, BPBD Pacitan, serta relawan setempat. Koordinasi antara pihak desa, keluarga, dan aparat terus berlangsung intensif.
“Masih kami pantau. Saya juga terus berkoordinasi dengan BPBD dan keluarga. Yang jelas mereka semua warga kami, dan kami turut berduka,” pungkas Kades Kedungmaling. (ted)






