Surabaya (beritajatim.com) – Startup Avera Cake, bisnis kue lapis legit yang dirintis dua mahasiswa Universitas Surabaya (Ubaya), berhasil meraih predikat startup terbaik dan mendapatkan beasiswa pengembangan usaha ke Cina. Capaian ini merupakan hasil pembinaan intensif dari Ubaya InnovAction Hub (UIH) melalui program Ubaya Ignite yang berada di bawah skema Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM).
Direktur UIH, Prof. Sujoko Efferin, Ph.D., menyatakan bahwa keberhasilan Avera Cake merupakan bukti nyata komitmen UIH dalam mendampingi mahasiswa untuk menjadi wirausahawan tangguh. “Ini merupakan salah satu bentuk kerja sama kami dengan kelembagaan yang bersifat sosial maupun komersial untuk memfasilitasi mahasiswa. Mulai saat ini dan selanjutnya, tiap startup terbaik di angkatan MBKM Kewirausahaan Komprehensif Ubaya Ignite akan mendapat beasiswa serupa,” ujarnya, Jumat (20/6/2025).
Beasiswa tersebut diberikan atas kolaborasi strategis antara UIH, Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Surabaya, dan Yayasan Bina Anak Indonesia Kompeten (BAIK) Indonesia. UIH mendampingi pengembangan startup mahasiswa secara menyeluruh melalui coaching internal dan eksternal, fasilitasi pembiayaan, penyelenggaraan Unnofest, hingga pengajuan hibah eksternal.
Selain itu, UIH juga menggandeng lebih dari 20 perusahaan dalam Entrepreneurship Advisory Board (EAB), serta organisasi seperti CEO Jatim, JCI East Java, EO, dan Apindo untuk memperkuat ekosistem startup mahasiswa. UIH turut menyediakan layanan pendaftaran Hak atas Kekayaan Intelektual (HKI), serta memfasilitasi pemasaran produk mahasiswa di toko offline Gedung International Village Ubaya.
“Ke depan, kami juga akan mengembangkan program XLab untuk kerja sama riset dan inovasi lintas fakultas serta program pengembangan toko online,” tambah Prof. Sujoko.
Avera Cake sendiri didirikan oleh Patricia Esther Wellyana dan Alodia Ardine Ardiningrum, mahasiswa Program Studi Manajemen Fakultas Bisnis dan Ekonomika (FBE) Ubaya. Mereka memulai usaha sejak 2020 sebagai respon terhadap dampak pandemi Covid-19, dengan konsep made by order dan penggunaan bahan baku premium untuk menyasar segmen pasar menengah ke atas.
“Sebagai perluasan bisnis orang tua, kami coba membuat usaha yang menyasar kalangan menengah ke atas dengan sistem made by order. Bisnis kami juga semakin berkembang ketika dibimbing oleh UIH apalagi sampai dapat beasiswa ke Cina. Oleh karena itu, kami semakin yakin untuk mengembangkan bisnis ini,” jelas Patricia.
Beasiswa yang diraih mencakup biaya akomodasi, tiket perjalanan, pelajaran bahasa Mandarin, serta kunjungan ke Yiwu International Trade Market—pasar grosir terbesar di dunia. Patricia dan Alodia dijadwalkan berangkat ke Cina pada Oktober 2025 mendatang.
“Kami ingin mempelajari budaya di sana, sehingga bisa menciptakan resep dan pasar baru di Cina,” pungkas Patricia. [ipl/beq]






