Bojonegoro (beritajatim.com) – Di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Desa Panjunan, Kecamatan Kalitidu, berdiri sebuah tempat yang menyimpan banyak cerita tentang masa lalu Bojonegoro. Museum 13, museum swasta pertama di kabupaten ini, menjadi bukti nyata bahwa pelestarian sejarah bisa dilakukan secara mandiri oleh masyarakat.
Museum ini menjadi pintu bagi siapa pun yang ingin melihat lanskap Bojonegoro di masa lampau melalui temuan-temuan arkeologi, paleontologi, dan artefak yang tersimpan rapi.
Museum 13 menjadi destinasi pertama yang dikunjungi Tim Verifikasi Geopark Nasional (GVN) saat berada di Bojonegoro. Di sana, tim disambut bukan hanya oleh deretan koleksi fosil dan artefak, tapi juga oleh semangat pelestarian yang hidup dalam komunitas lokal dan para siswa sekolah dasar.
Salah satu momen paling mengesankan adalah ketika Cantika, siswi kelas 4 SDN Panjunan, mempresentasikan sejarah berdirinya museum tersebut. Dengan fasih, ia menjelaskan bahwa nama Museum 13 berasal dari simbol budaya lokal. Angka 13 diambil dari buku saku ‘Wawe’ yang memuat filosofi tentang gajah, pusaka, dan orang sakti. Namun, angka itu juga dimaknai lebih dalam.
“Angka satu artinya Tuhan Yang Maha Esa, dan angka tiga berarti siklus kehidupan: lahir, hidup, dan mati. Filosofi ini menggambarkan bahwa segala sesuatu memiliki awal dan akhir, termasuk sejarah dan peradaban,” ungkap Cantika di hadapan tim GVN, Sabtu (14/6/2025).
Museum ini menyimpan berbagai koleksi dari tiga bidang utama: arkeologi, yang menampilkan artefak dari peradaban masa lalu; paleontologi, yang memperlihatkan fosil-fosil kehidupan purba seperti tulang gajah; serta geologi, yang menggambarkan potensi batuan alam Bojonegoro.
Yang membedakan Museum 13 dari museum lainnya adalah semangat gotong royong dan kepedulian warga. Berawal dari komunitas pecinta sejarah yang menemukan fosil gajah di sekitar desa, koleksi museum terus bertambah dan kini telah ratusan jumlahnya.
“Museum ini dibentuk dari kesadaran warga untuk menjaga sejarah lokal. Kami percaya bahwa masyarakat Bojonegoro, terutama anak-anak, perlu tahu bahwa tanah yang mereka pijak hari ini dulu pernah jadi habitat hewan purba,” ungkap salah satu pengelola museum, Harry Nugroho.
Menurutnya, Museum 13 bukan hanya tempat menyimpan benda-benda tua, tapi juga ruang edukasi yang aktif. “Kami terbuka untuk kunjungan sekolah, penelitian, dan kegiatan literasi budaya. Ini menjadi bagian dari kontribusi kami untuk menjaga warisan geologi dan sejarah daerah,” tambahnya.
Kehadiran Museum 13 mendapat apresiasi dari Tim GVN karena sejalan dengan semangat Geopark Nasional —yakni pelestarian geodiversity dan pengembangan edukasi berbasis kearifan lokal. Dalam upaya menuju UNESCO Global Geopark (UGGp), keberadaan museum seperti ini menjadi elemen penting untuk memperkuat identitas wilayah dan keberlanjutan pariwisata.
Usai berkunjung ke Museum 13, Tim GVN melanjutkan perjalanan ke beberapa lokasi budaya dan ekonomi kreatif lainnya di Bojonegoro, seperti sentra ledre di Desa Purwosari, Kampung Samin di Margomulyo, hingga paguyuban kerajinan akar tunggak Jati Aji.
Namun, Museum 13 meninggalkan kesan tersendiri. Di tempat sederhana itu, Bojonegoro bercerita—tentang zaman purba, tentang peradaban, dan tentang warga yang dengan sukarela menjaga ingatan kolektif daerah mereka. Dan mungkin, di sanalah masa depan pelestarian sejarah Bojonegoro sedang dibentuk, satu artefak demi satu. [lus/kun]






