Pacitan (beritajatim.com) – Dunia perfilman di Pacitan mulai menunjukkan geliatnya. Meski hingga kini belum memiliki fasilitas bioskop, semangat dan kreativitas para pecinta film di daerah ini tetap menyala. Bahkan, sebuah kompetisi film horor akan digelar pada September mendatang.
“Setiap manusia punya cerita masing-masing. Dengan bekal handphone, kita bisa membuat film. Dan kita akan buat Kompetisi Film Horor di Pacitan, September nanti,” ujar Garin Nugroho, sutradara kenamaan sekaligus pendiri Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF), saat menjadi pembicara dalam acara Pacitan Belajar Film yang digelar di Pendopo Kabupaten Pacitan pada Minggu (8/6/2025).
Garin menekankan bahwa penting bagi para pembuat film untuk memahami siapa penontonnya dan di media mana film itu akan ditayangkan.
“Kalau di bioskop, penonton fokus menyaksikan. Beda dengan yang nonton di televisi, apalagi di handphone, karena konsentrasi mereka terpecah,” tegasnya.
Bupati Pacitan, Indrata Nur Bayuaji, turut hadir dalam acara tersebut dan menyambut baik kehadiran Garin Nugroho serta para peserta yang hadir. Ia berharap, kegiatan ini bisa menjadi momentum bagi masyarakat Pacitan untuk menambah wawasan dalam dunia perfilman.
“Gunakan sebaik-baiknya. Yang pertama untuk menikmati film-film yang diputar, dan yang kedua saat sesi diskusi dibuka, tolong manfaatkan semaksimal mungkin untuk menambah pengetahuan kita semua,” pesan Bupati yang akrab disapa Mas Aji itu.
Meskipun tidak banyak berbicara mengenai potensi daerah secara eksplisit, Mas Aji menegaskan bahwa Pacitan memiliki kekayaan budaya, sejarah, dan alam yang sangat layak untuk dijadikan lokasi syuting film.
“Pacitan bisa dilihat dari berbagai sisi, budaya, seni, maupun alam yang mumpuni, bahkan sangat layak sebagai lokasi pengambilan gambar film,” tambahnya.
Acara Pacitan Belajar Film merupakan bagian dari program Ruang Film Pacitan, yang melibatkan pemutaran film pendek di tujuh titik lokasi bersejarah dan ikonik.
Lokasi-lokasi tersebut meliputi Song Terus, Gua Tabuhan, Pancer Door, Sentono Gentong, Monumen Jenderal Sudirman, Pondok Pesantren Tremas, serta Balai Desa Tanjungsari—gedung yang dulunya merupakan bioskop sebelum akhirnya ditutup sekitar tahun 1997.
Dengan semangat kolaborasi antara pegiat film lokal dan tokoh nasional seperti Garin Nugroho, kompetisi film horor di Pacitan nanti diharapkan mampu menjadi batu loncatan bagi sineas muda daerah dalam menunjukkan karya mereka, sekaligus membuka peluang kebangkitan industri film lokal meskipun infrastruktur masih terbatas. [tri/suf]






