Surabaya (beritajatim.com) – Lahir dari pasangan yang jauh dari dunia pendidikan tak membuat Moh. Ilham kehilangan semangat mengejar ilmu.
Ayahnya seorang tuna netra yang bekerja sebagai tukang pijat di Mojokerto. Sementara sang ibu tak pernah mengenyam bangku sekolah, atau dalam istilah umum disebut tuna aksara.
“Ayah saya hanya tukang pijat di Mojokerto, ibu saya tak pernah mengenyam pendidikan,” ujar Ilham mengenang perjuangan masa kecilnya, Jumat (6/6/2025).
Kini, pria berusia 35 tahun itu justru hampir meraih gelar doktor di Universitas Negeri Malang (UM). Tak hanya ingin menyelesaikan studi S3-nya, Ilham juga bertekad mempersembahkan sesuatu yang lebih besar, sebuah disertasi yang mengangkat kisah sukses para pengusaha disabilitas.
“Ini hadiah spesial untuk orang tua saya dan bentuk pengakuan bahwa orang-orang termarjinalkan juga bisa jadi teladan inspirasi dalam membangun usaha yang bermakna,” tuturnya.
Sebagai dosen kewirausahaan di Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, Ilham tergerak mendalami tema yang dekat dengan pengalaman hidupnya.
Ia menjelajah dari Mojokerto, Sidoarjo, Banten, hingga Maumere, Nusa Tenggara Timur demi menggali data dan bertemu langsung para pelaku usaha disabilitas yang menginspirasi.
Dalam risetnya, Ilham menggunakan pendekatan grounded theory untuk memahami secara mendalam praktik spiritual marketing dalam konteks kewirausahaan inklusi.
Penelitiannya tak sekadar wawancara atau observasi, tapi juga terlibat aktif membantu pengusaha penyandang disabilitas, termasuk tuna daksa, yang berhasil mengembangkan hotel, minimarket, hingga usaha travel.
“Para disabilitas itu juga bisa memimpin usaha, membangun ekonomi, memberi lapangan kerja, menyatukan keberagaman, dan diterima di tengah masyarakat,” ujar Ilham menegaskan.
Melalui penelitian ini, Ilham berharap bisa melahirkan teori baru: spiritual kewirausahaan inklusi. Sebuah konsep yang menggabungkan nilai-nilai transendental dengan praktik kewirausahaan yang merangkul keberagaman dan kesetaraan.
Lebih dari sekadar studi akademik, perjuangan Ilham adalah kisah tentang ketekunan, pengabdian, dan keyakinan bahwa setiap orang, tak peduli latar belakang atau keterbatasan fisiknya, punya hak dan potensi untuk menjadi cahaya perubahan. [ipl/but]






