Surabaya – Suara adzan subuh mulai berkumandang dari Masjid ke Masjid di kota Surabaya. Seorang pria bernama Tri Hartanto mulai melaksanakan aktivitasnya di pagi hari dengan penuh ketulusan hati, ia mulai menunaikan ibadah sholat dan menyiapkan sarapan sederhana bersama istri tercinta, Yuliana.
Bagi mereka pagi hari bukan hanya sekedar permulaan hari, tetapi juga tanda dimulainya perjuangan hidup di tengah keterbatasan mereka.
Pak Tri dan Ibu Yuliana telah menjalani kehidupan pernikahannya selama 2 tahun. Keduanya memiliki keterbatasan yang sama, yakni tuna rungu sejak lahir. Namun, dengan adanya keterbatasan itu, tidak menghalangi semangat mereka untuk saling mencintai dan membangun kehidupan rumah tangga yang harmonis.
Pak Tri adalah seorang penjual koran dan majalah yang setiap pagi berjualan di perempatan Jalan Wiyung Surabaya tepatnya pada pukul 05.30 WIB. Setiap hari, sebelum matahari terbit Pak Tri sudah bersiap-siap untuk berjualan koran dengan dinginnya udara pagi dan hiruk pikuk kendaraan bermotor yang lalu lalang di tengah jalan.
Tidak ada suara teriakan atau panggilan, yang ada hanyalah gerakan tubuh dan senyum tulus yang menjadi ciri khas Pak Tri untuk berjualan dan menarik perhatian pembeli.
Pak Tri tiba di lokasi berjualan dan ia menyiapkan koran dan majalah digantung untuk dijual. Seiring berjalannya waktu di sekitar perempatan Jalan Wiyung Surabaya, Pak Tri menjajakan koran dengan penuh harapan dan angan-angan untuk mendapatkan rezeki.
“Saya harap pembeli dapat memahami dan mendengar kata melalui bahasa tubuh saya”, ungkap Pak Tri dengan bantuan bahasa isyarat.
Pak Tri berjualan di Perempatan Jalan Wiyung yang tidak hanya menjadi ladang mencari rezeki, tetapi bagi Pak Tri itu juga menjadi tempat yang menyimpan luka mendalam di hatinya.
Lokasi tempat Pak Tri berjualan koran merupakan tempat di mana sang kakak yang bernama Yuliono kehilangan nyawanya dalam sebuah kecelakaan tragis. Sang kakak yang juga memiliki keterbatasan tuna rungu ditabrak oleh truk, karena sang kakak tidak dapat mendengar klakson yang berbunyi begitu keras.
“Saya sedih karena harus berjualan koran sekaligus berdampingan dengan lokasi di mana kakak saya meninggal” Kata Pak Tri lirih dan mencoba menjelaskan melalui gerakan tangannya dengan perlahan.
Kisah Pak Tri tidak hanya sekedar tentang mencari nafkah, tetapi juga menceritakan tentang bagaimana seseorang yang mampu bertahan dan membangun kehidupan yang utuh meskipun hidup di dalam sebuah “kesunyian”.
Pak Tri adalah anak keempat dari enam bersaudara, meskipun kehilangan kakaknya, Pak Tri tidak patah semangat untuk terus mencari nafkah. Di tengah keterbatasannya Pak Tri juga menemukan kekuatan melalui kelompok yang disebut sebagai “teman tuli”.
Teman tuli adalah sesama penjual koran tuna rungu yang biasa berkumpul di sekitar lokasi yang sama dengan Pak Tri berjualan.
Mereka saling menyapa, bercanda, dan tertawa bersama. Mereka menunjukkan bahwa dengan keterbatasan fisik bukan menjadi hambatan, untuk itu mereka saling menguatkan dan berbagai kebahagiaan bersama. Dalam kelompok kecil tersebut terlihat aura kehangatan keluarga yang begitu terpancar.
Kisah Pak Tri mungkin terdengar sederhana. Tetapi, cerita hidupnya merupakan sebuah cerminan adanya ketabahan dan ketulusan yang ada didalam hati.
Dibalik keterbatasan fisik dan kekuatan batin yang begitu besar, Pak Tri tidak hanya bekerja mencari nafkah, tetapi ia juga menjaga kenangan dan mengobati luka setelah ditinggal pergi oleh sang kakak tercinta. Pak Tri bersama teman-temannya mengingatkan kita bahwa komunikasi bukan hanya dari kata dan suara, tetapi juga soal perasaan empati dan perhatian. Kisah ini tentang menerima keterbatasan dengan lapang dada serta arti penting dari komunitas yang sama-sama saling menguatkan.
Penulis: Laila Rahmadhani
Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Univeritas Katolik Widya Mandala Surabayaa






