Banyuwangi (beritajatim.com) – Kebijakan Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani yang membatasi penggunaan kantong plastik sekali pakai membawa dampak positif bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) kerajinan bambu di Lingkungan Papring, Desa Kalipuro, Kecamatan Kalipuro. Sentra kerajinan yang sempat lesu ini kini kembali bergairah.
“Harus diakui kebijakan pembatasan kantong plastik dari Bupati Ipuk, membuat produk kerajinan bambu di kampung kami bergairah kembali. Permintaan produk kerajinan bambu untuk menggantikan kantong plastik meningkat,” ujar tokoh setempat, Widie Nurmahmudy.
Salah satu produk yang paling diminati adalah besek, wadah tradisional dari anyaman bambu. Menjelang Idul Adha, permintaan terhadap besek meningkat signifikan karena digunakan sebagai pengganti kantong plastik untuk membagikan daging kurban.
“Sebulan menjelang Iduladha seperti saat ini, permintaan banyak. Warga bisa membuat antara 5 ribu hingga 7 ribu besek dalam sebulan,” lanjut Widie.
Permintaan tinggi turut mempengaruhi harga besek. Dulu, harga cenderung seragam meski ukuran berbeda. Kini, harga bervariasi antara Rp2.500 hingga Rp3.000 per biji, tergantung ukuran.
Papring yang merupakan singkatan dari “panggonane pring” atau tempatnya pohon bambu, sejak lama dikenal sebagai sentra kerajinan bambu di Banyuwangi. Pada masa kejayaannya di era 1960-an hingga 1990-an, mayoritas warga bekerja sebagai perajin bambu. Namun, industri ini sempat meredup menjelang tahun 2000 karena menurunnya permintaan dan dominasi produk plastik.
“Dari sekitar 60-80 persen masyarakat pengrajin bambu menyisakan hanya sekitar 10 persen yang bertahan setelah itu,” jelas Widie.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, kebijakan pengurangan kantong plastik dan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap produk ramah lingkungan membuat kerajinan bambu kembali diminati. Kini, hampir seluruh warga Papring, sekitar 80 keluarga, kembali menekuni usaha kerajinan bambu.
Warga pun makin berinovasi. Tidak hanya besek, mereka memproduksi sekitar 20 jenis kerajinan lain, seperti tas bambu, dinding bambu atau gedek, capil, dan aneka produk lainnya.
Salah satu perajin, Mairoh, mengaku permintaan besek meningkat tajam dalam sebulan terakhir. Ia bersyukur, peningkatan permintaan ini membantu perekonomian keluarganya.
“Sehari bisa 30 sampai 50 besek, dan itu sudah ada yang ngambil. Jadi tidak bingung menjualnya,” ujar Mairoh. [alr/beq]






