Surabaya (beritajatim.com) – Insiden tidak adanya ambulans saat salah satu pemain Suro Soccer mengalami cedera dalam laga Piala Suratin Kota Surabaya di Lapangan ABC Gelora Bung Tomo, Minggu (1/6/2025), menuai perhatian publik.
Pemain tersebut akhirnya dilarikan ke rumah sakit menggunakan mobil milik salah satu wali murid, bukan ambulans sebagaimana protokol pertandingan sepak bola resmi.
Menanggapi hal ini, Ketua Panitia Pelaksana (Panpel) Piala Suratin Surabaya, Agus Sanjaya, memberikan klarifikasi.
Ia menyatakan bahwa panitia sebenarnya telah bekerja sama dengan rumah sakit dan Dinas Kesehatan Kota Surabaya untuk penyediaan fasilitas kesehatan, termasuk ambulans. Namun, pada saat kejadian, ambulans datang terlambat ke lokasi.
“Memang benar, pemain kami evakuasi menggunakan mobil wali murid karena ambulans belum tiba. Kami dari panpel bergerak cepat untuk memberikan pertolongan pertama. Tidak memungkinkan memakai mobil operasional karena sudah penuh dengan peralatan,” ujar Agus saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Minggu (1/6/2025).
Agus menegaskan bahwa kerja sama dengan Dinas Kesehatan Kota Surabaya sudah dilakukan sejak awal turnamen. Keterlambatan ambulans disebut sebagai kendala teknis di lapangan yang tidak bisa dihindari.
“Kami tetap bekerja sama dengan Dinkes Surabaya. Hanya saja, tadi kondisi di lapangan membuat ambulans terlambat sampai,” tambahnya.
Insiden ini terjadi saat laga antara Suro Soccer melawan Bintang Utama berlangsung. Salah satu pemain Suro Soccer, Maheswara Panji, yang berposisi sebagai bek tengah, mengalami cedera serius hingga pertandingan harus dihentikan sementara. Dalam video yang beredar di media sosial, tampak pemain dibopong oleh panitia dan perangkat pertandingan ke dalam mobil wali murid untuk segera dibawa ke fasilitas medis terdekat.
Kabar terakhir menyebutkan bahwa kondisi Maheswara mulai membaik meski masih menggunakan alat bantu pernapasan untuk pemulihan.
“Pemain sudah dalam kondisi stabil dan tinggal menunggu hasil pemeriksaan lanjutan dari rumah sakit sebelum bisa dipulangkan,” tutup Agus.
Kejadian ini memicu sorotan publik mengenai standar keamanan dan kesiapsiagaan medis dalam turnamen resmi, terutama yang melibatkan pemain usia muda. Evaluasi terhadap sistem koordinasi darurat diharapkan menjadi perhatian panitia ke depan agar kejadian serupa tidak terulang. (ted)






