Malang (beritajatim.com) – Memasuki tahun ajaran baru 2025-2026, sekolah mulai membuka pendaftaran peserta didik baru (PPDB). Komisi IV DPRD Kabupaten Malang, meminta agar memprioritaskan anak yatim, anak yatim piatu serta anak miskin kurang mampu.
Pernyataan ini disampaikan Zia’ul Haq, Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Malang ketika sidak ke beberapa Sekolah Menengah Pertama (SMP), Senin (26/5/25) bersama anggota komisi lainnya. Salah satunya di SMPN 1 Lawang dan SMPN 1 Singosari.
“Kami berpesan supaya anak yatim, yatim piatu dan anak miskin diprioritaskan. Kasihan orang tuanya kalau anak-anak mereka harus ke sekolah swasta. Ya kalau orang tuanya mampu, kalau tidak kan kasihan,” ungkap Zia’ul Haq.
Menurut Zia, sapaan akrabnya, meskipun hal itu baku, namun karena lembaga SMP kewenangannya berada di bawah Dinas Pendidikan Kabupaten Malang, tidak ada salahnya memprioritaskan anak yatim, yatim piatu dan anak miskin. Supaya mereka memiliki akses pendidikan yang adil dan merata.
“Boleh kok menggeser, kalau memang kita menolong anak yatim atau yatim piatu. Yang tidak boleh itu menjual belikan kursi. Kalau menolong anak yatim dan yatim piatu, saya yakin tidak akan ada masalah,” tuturnya.
Zia menyambung, kegiatan sidak ke beberapa sekolah untuk memastikan penerimaan siswa baru berjalan lancar. Terlebih dengan perubahan sistem, dari sebelumnya zonasi ke domisili.
Namun meskipun PPDB dilakukan secara online, Zia bersama anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Malang masih menerima keluhan dari para orangtua calon siswa. Salah satunya saat sidak ke SMPN 1 Lawang, ternyata PPDB masih dilakukan offline.
Buktinya, banyak orangtua yang datang ke sekolah untuk mendaftarkan anaknya. “Tadi saya melihat seperti mau daftar berobat saja. Ada sekitar 200 an lebih orangtua. Jelas orangtuanya kan kasihan, karena sampai ada yang harus izin tidak masuk kerja,” jelas Zia.
Tidak hanya itu, Zia juga menilai sistem domisili PPDB kali ini tidak jauh berbeda dengan zonasi. Sebab seakan domisili rasa zonasi.
“Seperti di SMPN 1 Singosari yang masuk di wilayah Desa Candirenggo. Calon siswa yang berasal dari Candirenggo masuk dalam ring satu. Sementara calon siswa yang berasal dari Desa Losari, masuk ring dua. Padahal jaraknya cukup dekat dan berhadapan dengan sekolah. Inilah yang menjadi problem pada PPDB kali ini,” paparnya.
Terpisah, Ana Purwati, Kepala SMPN 1 Singosari mengatakan siap menampung dan memprioritaskan anak yatim. Bahkan itu sudah dilakukan sejak beberapa tahun lalu. Meskipun jarak domisili mereka cukup jauh dari sekolah. “Di sekolah kami, sudah dari dulu memang memprioritaskan anak yatim. Masuknya lewat jalur afirmasi, yakni sekitar 20 persen dari kuota sebanyak 320 siswa,” terang Ana Purwati. (yog/kun)






