Malang (beritajatim.com) – Kawasan Sudimoro (SM) yang dulu ramai sebagai tempat nongkrong mahasiswa kini dinilai mulai kehilangan pamor. Warga asli Malang menilai penyebab utamanya adalah harga makanan yang terus naik namun tidak diiringi dengan peningkatan kualitas rasa dan pelayanan.
Ardi, warga asli Malang, mengungkapkan kekecewaannya setelah mengunjungi SM dan memesan makanan ringan di salah satu tempat makan. “Seblaknya mahal tapi rasanya nihil. Kentang goreng juga biasa saja. Jadi kalau ke sana cuma buat update status di Instagram ya oke, tapi soal rasa ya maaf saja,” ujarnya.
Menurut Ardi, SM saat ini lebih cocok untuk mahasiswa baru yang baru tiba di Malang. “Warga lokal sih sudah jarang ke sana. Kalau mahasiswa baru ya pasti ke sana karena dekat kampus. Tapi semester tiga atau empat nanti juga mereka nggak balik lagi kalau kualitasnya tetap seperti itu,” jelasnya.
Ia menambahkan, meskipun SM akan selalu punya pelanggan baru karena pertumbuhan mahasiswa setiap tahun, tapi mereka kebanyakan hanya pengunjung sementara. “Ya karena kampus negeri sistem PTN BH itu kan nambah kuota maba 10 persen tiap tahun, jadi first-timer selalu ada,” tambahnya.
Hal senada juga disampaikan Hanum, warga Malang lainnya yang menyoroti arah pengembangan kawasan nongkrong di kota ini. Menurutnya, Sudimoro kalah bersaing dibanding tempat nongkrong lain karena tidak punya tempat yang benar-benar berkesan.
“Malang sekarang dijajah coffee shop yang sudah punya brand dari kota-kota besar. Mereka masuk dengan konsep kuat, desain matang, dan kualitas yang konsisten. Sementara di Sudimoro, tempat-tempatnya nggak ada yang memorable,” ungkap Hanum.
Ia menyoroti bahwa tidak ada satu pun coffee shop ternama yang membuka cabang di SM. “Brand besar nggak ada di sana. Itu juga yang bikin anak muda kurang tertarik. Kalau cuma tempat nongkrong biasa tanpa identitas yang kuat, ya cepat jenuh,” ujarnya.
Hanum menambahkan, arah pengembangan kawasan seperti Sudimoro perlu diarahkan pada experience dan kekhasan. “Sekarang orang nongkrong nggak cuma cari kopi, tapi juga suasana dan cerita. Kalau semua tempat terlihat sama dan rasa makanan juga pas-pasan, ya susah bersaing.”
Warga menilai Sudimoro perlu rebranding menyeluruh jika ingin kembali menjadi magnet anak muda, bukan hanya mengandalkan lokasi yang dekat kampus. Ardi memberikan saran agar pelaku usaha mulai memperhatikan tiga aspek penting: harga, kualitas rasa, dan kebersihan tempat.
“Turunkan harga sedikit, tingkatkan kualitas rasa, dan jaga kebersihan tempat. Nggak perlu mewah, yang penting rasa makanan keluar dan tempatnya nyaman. Itu aja udah bisa bikin orang balik lagi,” tegasnya.
Dari sisi branding, Hanum menambahkan pentingnya menghadirkan tempat dengan konsep dan identitas kuat. “Bukan hanya tempat ngopi, tapi tempat dengan cerita. SM bisa jadi keren lagi kalau diarahkan dengan konsep yang lebih segar dan berani tampil beda.”
Kawasan seperti Sudimoro bisa tetap hidup jika pelaku usaha dan pengelola kawasan peka terhadap perubahan selera generasi muda dan bersedia beradaptasi, bukan sekadar ikut tren. (dan/kun)






