Bondowoso (beritajatim.com) – Wilayah Kabupaten Bondowoso, khususnya yang berada di lereng Pegunungan Argopuro, dikenal kaya akan hasil hutan seperti bambu. Salah satu desa yang memanfaatkan kekayaan tersebut adalah Desa Bendelan, Kecamatan Binakal.
Di desa ini, bambu tidak hanya dijual secara gelondongan, melainkan diolah menjadi besek pindang, atau dalam istilah lokal disebut Birnyit, yakni wadah dari anyaman bambu untuk ikan pindang.
Saat beritajatim.com mengunjungi desa tersebut pada Jumat (16/5/2025) sore, tampak sejumlah warga duduk di beranda rumah mereka sambil menganyam bambu. Suasana penuh kesibukan namun hangat terasa di setiap sudut rumah produksi warga.
Ika Santika, seorang pengrajin berusia 37 tahun, tampak cekatan membuat besek bersama suaminya. “Cepat karena sudah terbiasa. Sehari kalau gak ada gangguan, kami (suami istri) bisa bikin sampai 400 birnyit,” terang Ika sambil terus menganyam.
Di tempat lain, Sukram yang sudah berusia 53 tahun baru saja beristirahat setelah memproses bambu untuk dianyam. Meski hanya mampu membuat 100 besek per hari bersama istrinya, proses yang dijalani tetap sama panjangnya.
“Sebatang bambu petung itu awalnya dijemur dulu. Jika kering, lalu dipotong menjadi bagian-bagian kecil sebesar jari. Panjangnya disesuaikan dengan ukuran besek yang akan dibuat,” jelasnya.
Potongan bambu yang telah dijemur kemudian diiris tipis dan baru dianyam. “Sekali penjemuran butuh waktu 1-2 hari jika kemarau. Kalau sekarang kan kadang hujan, jadi jemurnya lebih lama. Lain lagi biaya tenaganya kan juga dihitung,” tambah Sukram.
Kepala Desa Bendelan, Bambang Hartono, menyebut wilayahnya sebagai sentra pengrajin Birnyit terbesar di Bondowoso. “Di sini ada 6 dusun yaitu Pal 9, Krajan, Karanganyar, Duncong, Masjid dan Klampokan. Semua warga di setiap dusun bikin Birnyit,” katanya.
Dari total 874 kepala keluarga di Bendelan, 800 di antaranya merupakan pengrajin besek pindang. Artinya, lebih dari 90 persen penduduk menggantungkan hidup pada kerajinan ini. “Industri ini ada sejak dulu. Kurun waktu 1995 sudah ada,” ujar Bambang.
Meskipun Bondowoso tidak memiliki laut, letaknya yang strategis diapit oleh empat kabupaten pesisir menjadikan Bondowoso memiliki pasar ikan pindang terbesar di Jawa Timur. “Letaknya di Kota Kulon. Itu yang dimanfaatkan oleh warga kami untuk membuat wadahnya,” jelas Bambang.
Pasokan bahan baku seperti bambu juga melimpah. Jika pasokan menipis, warga biasanya membeli dari desa tetangga seperti Bukor, Kecamatan Wringin.
Bambang berharap nantinya bisa terbentuk Koperasi Merah Putih (KMP) di Desa Bendelan untuk menaungi para pengrajin.
“Kerja kongkretnya nanti membuat gudang, mengakomodir produk Birnyit dari warga dan menjualnya ke pasar,” jelasnya. Ia menilai cara ini akan membantu menstabilkan harga jual yang saat ini masih sangat bergantung pada musim ikan.
Besek pindang sendiri memiliki beragam jenis berdasarkan bentuk dan ukuran, yang disesuaikan dengan jenis ikan. Beberapa jenis populer antara lain tepak, surabayaan, terminalan, tanggung wurung, tanggung panjang, ulingan, Malangan dan Dandung. Di Bendelan, yang diproduksi khusus hanya jenis Malangan dan Dandung.
Harga jualnya pun bervariasi. Untuk 100 besek Malangan dipatok Rp25 ribu, sedangkan Dandung Rp40 ribu. Jika permintaan tinggi, harga bisa naik menjadi Rp50 ribu hingga Rp70 ribu per 100 besek. Namun jika pasar lesu, pengrajin memilih menyimpan stok di rumah. (awi/ian)






