Bondowoso (beritajatim.com) – Potensi kopi di dataran tinggi Bondowoso kian menggeliat. Tahun 2025, Perhutani Bondowoso menargetkan produksi kopi senilai Rp 3,5 hingga Rp 5 miliar dari lahan aktif seluas sekitar 10 ribu hektare. Kawasan tersebut tersebar di sejumlah titik strategis, termasuk wilayah Ijen yang dikenal subur dan cocok untuk budidaya kopi berkualitas.
Ketua Patriot Ketahanan Pangan Ansor Pusat, Syafiq Syauqi, turun langsung meninjau lahan kopi di kawasan Ijen, termasuk di Desa Sukorejo, Kecamatan Sumberwringin, Jumat (16/5/2025). Kunjungan tersebut bertujuan memastikan keterlibatan kader-kader Ansor di sektor pertanian, perkebunan, dan peternakan dapat terfasilitasi secara optimal.
“Kami berharap, kalau skalanya masih kecil, bisa ditingkatkan dengan cara bekerja sama dengan Perhutani,” ujar pria yang akrab disapa Gus Syafiq itu.
Gus Syafiq menambahkan, pihaknya siap menjembatani kader Ansor yang tergabung dalam Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) dengan investor maupun offtaker untuk menyerap hasil panen.
“Kawasan Ijen ini cocok untuk pengembangan kopi. Apalagi Bondowoso dikenal sebagai Republik Kopi,” ungkapnya.
Hal senada disampaikan tokoh muda NU, Ubaidillah Amin. Ia menyebutkan bahwa banyak anak muda NU di Bondowoso yang kini berprofesi sebagai petani kopi dan ketela pohon. Mereka tergabung dalam LMDH dan aktif mendukung agenda pemerintah di bidang ketahanan pangan.
“Kami anak muda petani NU mendukung penuh visi misi Bapak Presiden Prabowo,” ujar pria yang juga menjabat Ketua Pembina Relawan Gibran Berkopyah tersebut.
Administratur KPH Perhutani Bondowoso, Misbakhul Munir, menyatakan bahwa saat ini telah terjalin kerja sama dengan sejumlah offtaker dari pabrik besar untuk membeli kopi produksi Bondowoso. Ia juga menyambut baik inisiatif anggota Ansor yang berencana membangun gudang panen sebagai penopang logistik selama musim panen raya berlangsung.
“Terbaru, anggota Ansor berencana membangun gudang panen untuk mendukung kegiatan petani, terutama saat masa panen raya antara Juni hingga November mendatang,” jelasnya.
Selain 10 ribu hektare lahan aktif, masih terdapat sekitar 12 ribu hektare lahan kopi yang kini berada dalam tahap penanaman dengan usia tanaman 1 hingga 2 tahun. Munir optimistis bahwa produksi kopi dari Bondowoso akan terus meningkat seiring bertambahnya lahan produktif.
“Potensinya bisa lebih besar dari target karena masih banyak tanaman muda yang menjanjikan,” pungkasnya. [awi/beq]






