Apa yang dilakukan bupati yang mantan aktivis mahasiswa ketika kembali ke kampus almamaternya?
Tentu saja, memesan secangkir kopi di kantin kampus dan ngobrol dengan mantan dosen dan kawan-kawan kuliahnya. Juga mentraktir mahasiswa yang terheran-heran menatapnya.
Itu yang dilakukan Yusuf Rio Wahyu Prayogo, Bupati Situbondo saat kembali ke kampus almamaternya, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Jember, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Jumat (16/5/2025) siang.
Rio sebenarnya diminta memberikan orasi dalam acara yudisium calon sarjana kampus tersebut. Namun dia menyempatkan diri mampir ke kantin FISIP sebelum acara dimulai dan memesan secangkir kopi.
“Dulu waktu saya kuliah, kantin ini belum ada. Bagus ya?” kata Rio yang pernah tercatat sebagai mahasiswa jurusan Hubungan Internasional FISIP Unej Angkatan 2003.
Ada banyak mahasiswa yang meriung di sejumlah meja. Rio kemudian nyeletuk dengan suara nyaring. “Siapa mahasiswa dari Situbondo?”
Beberapa orang mengangkat tangan. “Silakan makan dan minum ya, gratis. Saya yang bayar,” kata Rio.
Beberapa mahasiswa melongo. Beberapa saat kemudian mereka baru sadar jika orang berjas rapi jali yang berdiri di kantin adalah orang nomor satu di Situbondo.
Seorang mahasiswa menghampiri untuk bersalaman dan mencium tangan Rio. “Belajar yang keras, Cong,” kata Rio. Cong adalah kependekan dari kacong, kosakata bahasa Madura yang artinya ‘anak lelaki’.
Rio terlihat antusias kembali ke kampusnya atas undangan sang dosen, Agus Trihartono. “Rasanya seperti nostalgia. Saya masuk kampus ini tahun 2003 dan lulus hampir tujuh tahun kemudian. Begitu naik podium di Aula ini, langsung terasa memorinya,” katanya disambut tepuk tangan peserta yudisium.
Rio pernah menghabiskan waktu hampir tujuh tahun untuk menjadi mahasiswa sekaligus aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa FISIP Unej.
Kampus FISIP menempa mental kepemimpinan Rio agar tak patah oleh nasib. Jauh sebelum terpilih menjadi Bupati Situbondo, pria kelahiran 30 Maret 1984 ini pernah berjualan kopi keliling di Alun-alun Jember Nusantara.
Rio juga pernah bersusah payah hanya untuk melamar menjadi juru jual (salesman) sepeda motor Honda. “Saya pernah hujan-hujanan naik motor ke Malang untuk daftar jadi sales motor Honda, dan ditolak,” katanya.
Setelah gagal menjadi juru jual sepeda motor dan hanya berjualan kopi keliling, kesempatan menjadi awak kapal pesiar justru ditampik Rio. Dia menyadari gairah besarnya pada intelektualisme, dan akhirnya memilih menggeluti dunia riset politik.
“Saya percaya, asal kita tidak berhenti bergerak dan bersyukur, masa depan akan berpihak pada kita,” kata Rio.
Manusia tidak pernah sekali jadi dan selalu dalam proses menjadi. “Rio adalah hasil proses dialektika, dari proses gesekan, perkawanan, dan semuanya bermuara pada kepentingan masing-masing,” katanya.
Rio menyarankan kepada para calon sarjana FISIP Unej untuk tidak mendesain karier. “Selain rasionalitas, saya percaya adanya faktor X,” katanya.
Rio mengajak para lulusan FISIP untuk percaya diri menghadapi masa depan. “Kalau saya yang mantan aktivis ini bisa menjadi Bupati, maka peluang yang sama terbuka untuk kalian semua,” katanya. [wir]






