Malang (beritajatim.com) – Kepala Badan Kepegawaian Negara (BKN) Republik Indonesia, Prof. Dr. Zudan Arif Fakrulloh, S.H., M.H., menekankan pentingnya peran kampus dalam mencetak generasi unggul guna menyongsong Indonesia Emas 2045.
Hal ini disampaikan dalam Kuliah Tamu bertema Wujudkan Generasi Muda Unggul dalam Menyongsong Indonesia Emas 2045, yang digelar di Aula Lantai 9 Graha Rektorat Universitas Negeri Malang (UM), Rabu (15/5/2025).
Prof. Zudan menyampaikan apresiasi atas kerja sama Universitas Negeri Malang dalam menyukseskan pelaksanaan seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) yang digelar di UM selama dua hari.
“Terima kasih kami sampaikan kepada Bapak Rektor UM. Ini kampus luar biasa. Dua hari ini dimanfaatkan untuk tes seleksi P3K, fasilitasnya sangat memadai. Ini langkah positif untuk menjaring kader-kader terbaik bangsa,” ujarnya.
Lebih dari itu, Prof. Zudan menekankan pentingnya penguatan kolaborasi antara BKN dan perguruan tinggi. Kolaborasi ini untuk membangun sumber daya manusia (SDM) yang dibutuhkan negara.
“BKN sebagai HRD-nya Indonesia tentu harus membangun sinergi dengan kampus-kampus, termasuk UM. Dari kampus, kita bisa melakukan talent scouting untuk menjaring SDM unggul. Para ASN juga bisa lanjut studi S2 atau S3 di sini, sesuai dengan kebutuhan pemerintah daerah,” paparnya.
Mengacu pada visi besar nasional, Prof. Zudan menyebut bahwa Indonesia membutuhkan SDM dengan kompetensi beragam. Presiden RI, kata dia, menargetkan kemandirian di sektor pangan, air, energi, dan ekonomi melalui program hilirisasi yang membutuhkan tenaga kerja andal dari berbagai disiplin ilmu.
“Kita sekarang punya 4,7 juta ASN, dan akan bertambah sekitar 1 juta lagi. Tapi bukan soal kuantitas saja, yang dibutuhkan adalah karakter SDM yang menguasai teknologi, pertanian, ekonomi, dan bidang strategis lainnya,” tegasnya.

Dalam sesi tanya jawab, Prof. Zudan menyoroti pentingnya peningkatan rata-rata lama sekolah masyarakat Indonesia yang saat ini masih berada di angka 8 tahun atau setara kelas 2 SMP.
“Negara maju itu rata-rata lama sekolahnya sudah di atas 15 tahun. Kita harus menuju ke sana. Karena kalau partisipasi sekolah naik, maka kualitas demokrasi, pertumbuhan ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat juga akan meningkat,” ungkapnya.
Ia menyebut program Sekolah Rakyat sebagai inisiatif yang patut didukung. Program ini membuka akses pendidikan untuk seluruh lapisan masyarakat.
BKN juga disebut aktif mendukung pemetaan ulang (remapping) dan redistribusi tenaga pendidik, bekerja sama dengan Kementerian Sosial dan kementerian terkait lainnya.
“Kami siap mendukung penguatan tenaga pendidik, karena semua dimulai dari pendidikan. Anak-anak terbaik bangsa harus dipersiapkan sejak sekarang,” pungkas Prof. Zudan.
Kuliah tamu ini menjadi bukti konkret peran strategis perguruan tinggi dalam membentuk SDM unggul. Hal itu menjadi bagian dari perjalanan Indonesia menuju 100 tahun kemerdekaan yang berdaya saing global. (dan/ted)






