Jakarta (beritajatim.com) – Sanksi dari FIFA terhadap PSSI usai insiden diskriminatif dalam laga Indonesia kontra Bahrain menjadi peringatan keras bahwa sepak bola Indonesia membutuhkan langkah nyata dalam literasi dan pendidikan suporter.
FIFA menjatuhkan hukuman kepada Indonesia setelah sebagian suporter tuan rumah melakukan tindakan diskriminatif saat pertandingan Kualifikasi Piala Dunia 2026 melawan Bahrain, yang berlangsung pada 25 Maret 2025 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta.
“Jadi tidak boleh ada ujaran kebencian, rasisme, xenophobia dan lain-lainnya. Ini pembelajaran bagi kita semua, jelas merugikan kita semua, tapi kita harus tanggung bersama-sama,” kata anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI, Arya Sinulingga.
“Jadi ke depan kita harus mulai melakukan langkah-langkah literasi dan pendidikan-pendidikan suporter untuk tidak melakukan hal-hal yang berhubungan dengan diskriminasi,” imbuh Arya Sinulingga.
Sebagai konsekuensi, timnas Indonesia harus menghadapi China pada 6 Juni mendatang dengan pembatasan jumlah penonton. FIFA mewajibkan pengurangan 15 persen kapasitas kursi di Tribun Utara dan Selatan — dua area yang disebut paling aktif dalam insiden tersebut.
Tak hanya itu saja, PSSI juga harus membayar denda lebih dari Rp400 juta, serta menyerahkan rencana pemetaan tempat duduk kepada FIFA sebelum pertandingan melawan China digelar.
FIFA sendiri memberikan alternatif agar kursi yang dibatasi dapat dialokasikan kepada komunitas anti-diskriminasi, keluarga, pelajar, atau kelompok perempuan.
Selain itu, FIFA juga meminta PSSI memasang spanduk bertema anti-diskriminasi dan menyusun rencana strategis untuk memberantas segala bentuk diskriminasi di sepak bola nasional. [faw/aje]






