Sampang (beritajatim.com) – Sejumlah petani garam di Kabupaten Sampang, Jawa Timur, telah mulai memasuki musim produksi pada tahun 2025. Namun, musim produksi kali ini dibayangi oleh penurunan harga yang cukup tajam dibandingkan tahun sebelumnya.
Kepala Bidang Pembudidayaan dan Garam Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sampang, M. Mahfud, menyatakan bahwa turunnya harga garam di awal musim 2025 salah satunya dipengaruhi oleh melimpahnya stok garam dari tahun sebelumnya.
“Pada 2024 harga garam sempat mencapai Rp1.500 per kilogram. Tapi, di awal musim 2025 ini, harganya turun menjadi sekitar Rp600 per kilogram,” ujarnya, Senin (12/5/2025).
Menurut Mahfud, penurunan ini tentu menjadi kekhawatiran tersendiri bagi para petambak garam yang berharap memperoleh hasil lebih baik dari musim sebelumnya. Ia menambahkan bahwa langkah agar garam dimasukkan ke dalam daftar bahan pokok nasional masih menjadi aspirasi utama yang terus diperjuangkan.
“Kami sudah melaporkan tuntutan tersebut ke pemerintah pusat. Jadi, keputusan sepenuhnya ada di tangan pemerintah pusat,” imbuhnya.
Ia menilai, apabila garam masuk sebagai komoditas bahan pokok nasional, maka harga dapat lebih stabil. Hal itu diyakini akan berdampak langsung pada kesejahteraan petani garam. “Kami berharap itu bisa segera diwujudkan agar petani garam tidak terus dirugikan karena fluktuasi harga,” ujarnya.
Lebih lanjut Mahfud menjelaskan, wacana tersebut bukan hal baru. Sebab, beberapa tahun silam garam sempat masuk dalam daftar bahan pokok melalui aturan Peraturan Presiden (Perpres), meski kini tidak lagi tercantum dalam susunan draf terbaru.
“Padahal dulu sempat dianggap sebagai bahan utama yang berpengaruh terhadap kesejahteraan petambak,” pungkasnya.
Situasi ini kembali membuka diskusi tentang perlunya perlindungan dan regulasi yang lebih berpihak kepada petani garam nasional, terlebih di tengah tantangan produksi dan distribusi yang semakin kompleks. [sar/suf]






