Tulungagung (beritajatim.com) – Menjelang perayaan Hari Raya Tri Suci Waisak 2569 BE/2025, umat Buddha di Vihara Buddha Loka Theravada Tulungagung menggelar tradisi Pindapata pada Minggu, 11 Mei 2025. Tradisi ini melibatkan para calon Bikkhu atau Samanera yang berjalan kaki mengelilingi vihara sambil mengumpulkan sedekah makanan dari umat, sebagai simbol kerendahan hati, kebersamaan, dan nilai berbagi.
Tradisi Pindapata merupakan salah satu rangkaian penting dalam perayaan Waisak, yang tidak hanya bersifat seremonial tetapi juga bagian dari praktik spiritual dalam ajaran Buddha. Para calon Bikkhu membawa mangkuk makanan atau patta, yang digunakan untuk menerima persembahan dari umat sepanjang rute yang telah ditentukan di sekitar vihara.
Pembina rohaniawan Vihara Buddha Loka Theravada, Pandita Sugianto, menegaskan bahwa tradisi ini mencerminkan hubungan timbal balik antara Bikkhu dan umat. “Dalam tradisi Pindapata ini umat memberikan sedekah berupa makanan kepada para Bikkhu,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Bikkhu memiliki tugas membimbing umat secara rohani, sementara umat berkewajiban memenuhi empat kebutuhan dasar para Bikkhu, yaitu sandang, pangan, papan, dan obat-obatan. Tradisi ini juga disebut sebagai sanghadana, yakni bentuk penghormatan murid kepada guru, dengan harapan mendapatkan berkah atas kebajikan yang dilakukan.
“Umat yang memberi sedekah akan mendapat buahnya, seperti berkah kesehatan, kekuatan serta rezeki yang mengalir halal,” terang Pandita Sugianto.
Pindapata menjadi kegiatan penutup menjelang perayaan detik-detik Waisak, yang akan ditandai dengan ritual Pradaksina atau mengelilingi altar utama sebanyak tiga kali. Upacara ini memperingati momen penting saat Siddhartha Gautama mencapai pencerahan sempurna.
“Kita berharap dalam momen Tri Suci Waisak ini bisa semakin kokoh dan kuat secara keyakinan dan melakukan dharma sang Buddha dengan lebih baik sesuai dengan tujuan kita meraih kebahagiaan yang abadi,” pungkas Pandita Sugianto. [nm/aje]






