Surabaya (beritajatim.com) – Setiap tanggal 1 Mei, masyarakat di berbagai belahan dunia memperingati May Day, yang lebih dikenal dengan sebutan Hari Buruh Internasional.
Peringatan ini bukanlah sekadar hari libur biasa yang dinikmati tanpa makna, melainkan sebuah momentum yang sarat nilai historis, karena menyimpan catatan panjang perjuangan kaum buruh dalam menuntut hak-hak dasar mereka di dunia kerja.
Menjelang tanggal 1 Mei 2025, penting bagi kita untuk lebih memahami esensi dari May Day, termasuk menelusuri akar sejarahnya, sehingga kita dapat menghargai perjuangan yang telah mengantarkan May Day menjadi sebuah peringatan global yang diakui serta diperingati di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Apa Itu May Day?
Melansir berbagai sumber, May Day merupakan sebuah peringatan tahunan yang secara khusus didedikasikan untuk menghormati dan mengapresiasi perjuangan serta kontribusi para pekerja dan buruh di seluruh penjuru dunia.
Pada tanggal tersebut, para pekerja dari beragam sektor industri biasanya mengadakan berbagai bentuk kegiatan seperti aksi demonstrasi, parade, hingga diskusi publik, guna menyuarakan hak-hak mereka, yang meliputi hak untuk memperoleh upah yang layak, hak atas jam kerja yang manusiawi, serta hak atas lingkungan kerja yang aman dan sehat.
May Day lahir dari sejarah panjang perjuangan kelas pekerja yang menuntut penghapusan sistem kerja yang eksploitatif, yang banyak terjadi pada abad ke-19, khususnya di negara-negara yang tengah mengalami revolusi industri.
Sejarah May Day
Sejarah May Day berakar dari peristiwa penting yang terjadi di Amerika Serikat pada penghujung abad ke-19. Tepat pada tanggal 1 Mei 1886, jutaan buruh di berbagai wilayah di Amerika Serikat menggelar demonstrasi besar-besaran.
Mereka menuntut pengurangan jam kerja menjadi delapan jam sehari, mengingat saat itu para buruh kerap dipaksa bekerja antara 14 hingga 16 jam per hari dalam kondisi kerja yang buruk dan upah yang tidak sebanding dengan beban pekerjaan.
Salah satu demonstrasi terbesar terjadi di kota Chicago, yang kemudian menjadi saksi peristiwa tragis yang dikenal dengan nama Tragedi Haymarket. Pada 4 Mei 1886, demonstrasi damai berubah menjadi kekacauan setelah sebuah bom dilemparkan ke arah polisi yang sedang membubarkan massa, menyebabkan korban jiwa di kedua belah pihak.
Hingga kini, pelaku pelemparan bom tersebut tidak pernah terungkap, namun beberapa tokoh buruh dijatuhi hukuman mati. Peristiwa ini menjadi simbol penting dalam sejarah perjuangan buruh di tingkat internasional.
Sebagai bentuk penghormatan atas perjuangan ini, pada tahun 1889, Kongres Buruh Internasional yang digelar di Paris secara resmi menetapkan tanggal 1 Mei sebagai Hari Buruh Internasional, yang sejak itu diperingati setiap tahun oleh berbagai negara di seluruh dunia.
May Day di Indonesia
Di Indonesia, semangat memperingati Hari Buruh sebenarnya telah muncul sejak masa penjajahan Belanda. Namun, perkembangan peringatannya mengalami pasang surut, terutama pada masa pemerintahan Orde Baru, ketika perayaan May Day dilarang karena dianggap berpotensi memicu instabilitas politik dan sosial.
Baru pada era reformasi, tepatnya pada tahun 2013, pemerintah Indonesia melalui Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2013 menetapkan tanggal 1 Mei sebagai hari libur nasional, sebagai bentuk pengakuan resmi terhadap pentingnya peran buruh dalam pembangunan bangsa.
Sejak saat itu, setiap peringatan 1 Mei, berbagai serikat pekerja di Indonesia rutin mengadakan aksi damai, seminar, hingga kegiatan sosial lainnya sebagai bentuk ekspresi solidaritas dan perjuangan untuk memperjuangkan hak-hak buruh.
Kegiatan ini juga bertujuan untuk meningkatkan kesadaran publik mengenai pentingnya keadilan sosial dan kesejahteraan pekerja sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
May Day tidak hanya menjadi ajang demonstrasi atau sekadar momen libur tahunan. Hari ini merupakan pengingat akan sejarah panjang perjuangan keras para buruh dalam meraih hak-haknya yang layak dan adil. Peringatan ini juga menjadi momentum penting untuk mendorong terciptanya lingkungan kerja yang lebih manusiawi, berkeadilan, dan sejahtera. [aje]






