Surabaya (beritajatim.com) — Komisariat Mafindo Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (KOMINDO UKWMS) kembali melanjutkan kiprah edukasi literasi digital melalui program Komindo Goes To School (KGTS).
Bertempat di Aula SMA Katolik Karitas III Surabaya, pada Rabu (23/04), kampanye bertema “Bahaya Love Scamming dan Toxic Behavior” ini sukses diikuti 100 peserta dari kalangan siswa-siswi.
Acara ini sendiri bertujuan untuk membekali generasi muda dengan pengetahuan seputar risiko interaksi di dunia digital, khususnya mengenai penipuan cinta daring (love scamming) dan perilaku beracun (toxic behavior).
Melalui pendekatan berbagi pengalaman dalam kelompok kecil, relawan KOMINDO UKWMS mengajak peserta untuk lebih peka terhadap bahaya yang mengintai di balik layar gadget mereka.
“Pelatihan ini berbentuk kelas cek fakta untuk mengedukasi remaja agar tidak terjebak dalam berita bohong (hoaks) maupun menjadi korban love scamming dan toxic behavior yang dapat merusak kesehatan mental,” ujar Merlina Maria Barbara Apul, dosen pendamping KOMINDO UKWMS, ketika sesi acara.
Pelatihan ini dibagi menjadi tiga segmen utama, yaitu: kelas cek fakta, pengenalan konsep toxic behavior dan love scamming, serta aktivitas interaktif berupa permainan board game. Dengan pendekatan yang komunikatif, para fasilitator memandu peserta untuk aktif berdinamika dan berdiskusi.
Antusiasme terlihat jelas sepanjang acara. Para siswa tampak bersemangat, menyerap materi, dan terlibat aktif dalam dinamika kelompok. Gabriel, salah satu peserta, mengaku mendapatkan banyak manfaat.
“Kesannya sangat bagus. Menambah pengetahuan tentang masalah remaja di dunia digital, dan membuat kita lebih bijak memilih teman online,” tuturnya.
Senada dengan Gabriel, Jovan Christoper Dandiyono juga membagikan pengalamannya.
“Kegiatan ini memberi saya wawasan baru tentang bagaimana bermain sosial media dengan aman dan tidak menjadi korban love scamming,” ungkapnya.
Relawan KOMINDO UKWMS yang berasal dari Fakultas Ilmu Komunikasi UKWMS, memainkan peran sentral sebagai fasilitator. Mereka tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga mengasah kemampuan peserta dalam memilih informasi yang kredibel di tengah derasnya arus berita daring.
“Ini tantangan pertama saya menjadi fasilitator setelah sebelumnya hanya bertugas sebagai panitia. Awalnya memang sulit, namun dengan mengikuti arahan panitia, saya bisa menjelaskan materi dengan lancar hingga peserta memahami pentingnya mewaspadai love scamming dan toxic behavior,” ungkap Eugenia Stevie Go, salah satu fasilitator.
Kampanye ini mencoba menunjukkan bahwa literasi digital bukan hanya tentang menguasai teknologi, tetapi juga membangun karakter dan ketahanan diri di era serba cepat ini. (fyi)






