Malang (beritajatim.com) – Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini bukan lagi sekadar teknologi masa depan, melainkan realitas yang sedang membentuk dunia. Namun, tak semua orang siap.
Dosen Informatika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ir. Galih Wasis Wicaksono, S.Kom., M.Cs., mengeluarkan peringatan keras: mereka yang tak mampu memahami dan menggunakan AI akan tersisih dari kompetisi global.
“Bukan AI yang mengalahkan manusia. Tapi manusia yang bisa pakai AI akan mengalahkan manusia yang tidak bisa,” tegas Galih dalam paparannya, beberapa waktu lalu pada beritajatim.com.
Saat ini, AI telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Dari menyusun laporan, menerjemahkan teks, membuat konten, hingga menjadi teman curhat digital—semua bisa dilakukan dalam hitungan detik. Tapi di balik kemudahan itu, muncul kesenjangan digital yang mengkhawatirkan: mereka yang paham teknologi dan mereka yang tidak.
Galih menyebutkan bahwa AI bekerja berdasarkan pelatihan intensif—meniru cara berpikir, mengambil keputusan, bahkan memahami konteks seperti manusia. Teknologi ini berkembang menjadi apa yang kini kita kenal sebagai Generative AI dan Large Language Models (LLM), seperti ChatGPT, LLAMA, Gemini, hingga Grok.
“AI bukan cuma menjawab. Dia menciptakan solusi. Dan siapa yang menguasainya, akan punya keunggulan besar di masa depan,” kata Galih.
Bagi mereka yang ingin lebih dari sekadar pengguna pasif, Galih menyarankan untuk mendalami dasar-dasar AI: matematika, pemrograman, machine learning, dan deep learning. Ini adalah modal penting untuk menciptakan teknologi AI sendiri.
“Kalau cuma pakai, semua bisa. Tapi kalau ingin jadi penggerak, bukan pengikut, maka harus menguasai dasar-dasarnya,” ujarnya.

Meski AI menawarkan segudang manfaat, Galih menekankan pentingnya Responsible AI. Penggunaan AI secara serampangan bisa membuka peluang manipulasi, penyebaran hoaks, hingga pelanggaran hak cipta.
“AI itu seperti pisau. Bisa bantu, bisa juga melukai. Tergantung siapa yang pegang,” katanya.
Beberapa platform besar seperti Google dan Instagram bahkan mulai memberi label khusus untuk membedakan konten buatan manusia dan konten buatan AI, sebuah upaya membangun kesadaran digital di tengah masyarakat yang semakin terpapar teknologi.
Di akhir paparannya, Galih menegaskan: “Kalau Indonesia ingin bersaing, kita harus cakap memanfaatkan AI untuk kemajuan bersama. Kalau tidak, kita hanya akan jadi penonton.” [dan/aje]







1 Komentar
Ini adalah modal penting untuk menciptakan teknologi AI sendiri? Regard Ilmu Komunikasi