Surabaya (beritajatim.com) – Universitas Negeri Surabaya (Unesa) kembali menunjukkan komitmennya sebagai kampus ramah disabilitas dengan memfasilitasi peserta UTBK (Ujian Tulis Berbasis Komputer) berkebutuhan khusus.
Salah satu pesertanya, Abidah Ardelia Ramadhani Budiatmaja, yang mencuri perhatian lewat kisah perjuangan dan pilihannya yang tak biasa, yakni jurusan musik.
Di balik heningnya ruang ujian UTBK di Kampus 2 Unesa, Lidah Wetan, terlihat Abidah dengan penuh konsentrasi mendengarkan suara lembut dari aplikasi pengubah teks ke suara yang membacakan soal. Tak ada keraguan di wajahnya, hanya keteguhan dan harapan.
Abidah bukan peserta biasa. Gadis tunanetra sejak lahir ini hadir sebagai simbol keberanian dan tekad yang tak tergoyahkan. Meski baru mulai mempersiapkan diri sejak Maret, bulan lalu., Abidah memilih untuk mengikuti UTBK tahun ini dengan satu tujuan, yakni melanjutkan kecintaannya pada dunia musik.
“Saya belajar sendiri di rumah. Ini pertama kali saya ikut UTBK, dan saya memilih jurusan musik karena saya suka. Saya ingin melanjutkan apa yang saya cintai,” ungkapnya dengan senyum kecil namun penuh keyakinan. “Saya optimis bisa lolos,” lanjutnya.
Lulusan SMA Muhammadiyah 2 Sidoarjo ini mengerjakan semua soal secara mandiri dengan bantuan komputer berbasis audio. Abidah membuktikan bahwa kemandirian bukan sekadar kata. Ia menjalaninya, menjadikannya bagian dari dirinya.
Fasilitas Khusus untuk Peserta Berkebutuhan Khusus
Wakil Rektor I Bidang Pendidikan, Kemahasiswaan, dan Alumni Unesa, Prof. Martadi, menjelaskan bahwa pihak kampus telah menyiapkan berbagai fasilitas khusus untuk mendukung peserta UTBK dari kalangan disabilitas.
“Hari ini ada dua peserta tunanetra yang mengikuti UTBK. Mereka kami tempatkan di ruang khusus tanpa peserta lain, serta menggunakan aplikasi pembaca teks bernama NVDA. Kami juga sediakan pendamping teknis untuk mengantisipasi kendala,” jelasnya.
Unesa, sebagai salah satu kampus inklusif di Indonesia, terus berupaya menciptakan akses yang setara bagi calon mahasiswa berkebutuhan khusus. Setiap tahunnya, sekitar 50 peserta disabilitas mendaftar melalui jalur afirmasi mandiri dan difasilitasi untuk masuk ke berbagai program studi yang tersedia.
Komitmen Inklusi di Dunia Pendidikan
Langkah Unesa tak hanya mencerminkan kepedulian, tapi juga menjadi inspirasi bahwa pendidikan tinggi bisa diakses oleh semua kalangan tanpa kecuali. Kisah Abidah menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk meraih mimpi.
Dengan semangat, ketekunan, dan dukungan dari lingkungan yang inklusif, Abidah kini tinggal selangkah lagi untuk mewujudkan impiannya menjadi mahasiswa jurusan musik. Dan siapa tahu? Suatu hari nanti, namanya akan bergema bukan hanya di ruang ujian, tapi juga di panggung-panggung besar sebagai musisi yang menginspirasi banyak orang. [ipl/beq]






