Ponorogo (beritajatim.com) – Duka mendalam menyelimuti ruang-ruang kelas SMP Katolik (SMPK) Slamet Riyadi Ponorogo. Hari ini, Selasa (22/4/2025), puluhan siswa mengikuti ibadat arwah untuk mendoakan Paus Fransiskus yang wafat sehari sebelumnya. Doa-doa dipanjatkan dengan penuh khidmat, dipimpin langsung oleh Kepala Sekolah, Kresensiana Vitarini.
“Ini bukan sekadar doa rutin. Ini ungkapan kasih dan hormat kami atas wafatnya pemimpin umat Katolik yang begitu kami cintai,” ungkap Vitarini.
Ia yang baru menjabat kepala sekolah, menyebut momentum ini sebagai bentuk pembelajaran spiritual yang dalam bagi para siswa.
“Anak-anak tidak hanya belajar mengenang, tapi juga meneladani nilai-nilai hidup Paus Fransiskus: kesederhanaan, kepedulian, dan cinta kasih,”
Selama sepekan ke depan, rangkaian ibadat akan terus digelar di sekolah tersebut. Vitarini pun tak kuasa menahan emosi saat mengenang sosok Paus yang sempat mengunjungi Indonesia beberapa bulan silam.
“Beliau datang tanpa kemewahan, hanya dengan kendaraan biasa. Itu meninggalkan kesan mendalam bagi kami,” katanya.
Duka yang sama dirasakan Nicholas Excel Christian, siswa kelas IX. Dengan mata berkaca-kaca, Ia menyebut Paus Fransiskus sebagai figur yang membentuk semangat rohani dan kemanusiaannya.
“Beliau sederhana tapi kuat. Rendah hati tapi penuh kasih. Saya merasa kehilangan tokoh yang menginspirasi hidup saya,” ujarnya lirih.
Yang menarik, ibadat arwah ini tak hanya diikuti siswa Katolik. Beberapa siswa Muslim dan pemeluk agama lain juga hadir, menciptakan suasana toleransi yang menyentuh. Di tengah duka, semangat persaudaraan lintas iman justru tumbuh kuat di halaman sekolah.
Ibadat arwah di SMPK Slamet Riyadi menjadi gambaran kecil tentang bagaimana anak-anak muda di Ponorogo diajak tumbuh dalam nilai iman dan kemanusiaan. Dalam keheningan doa, mereka mengenang seorang Paus yang hidup dalam kesederhanaan, dan wafat dalam pelukan jutaan hati yang mencintainya. (end/ian)






