Jember (beritajatim.com) – Agus Trihartono, Rektor Universitas Islam Cordoba Banyuwangi, dikukuhkan menjadi guru besar atau profesor di Universitas Jember, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Kamis (17/4/2025).
Abdullah Azwar Anas, pembina Yayasan Pondok Pesantren Mabadiul Ihsan yang menaungi Universitas Islam Cordoba yang juga mantan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara-Reformasi Birokrasi, hadir dalam acara pengukuhan di gedung auditorium tersebut.
Agus adalah pengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jember yang kemudian menjadi guru besar diplomasi. Dia diperbantukan menjadi rektor di UI Cordoba sejak medio 2024.
Ketertarikannya pada hubungan internasional terlihat sejak sekolah dasar. Dari sisipan lampiran daftar alamat kedutaan-kedutaan besar di Indonesia yang ada di Majalah Bobo, Agus melayangkan surat-surat sederhana berbahasa Indonesia ke kedutaan Amerika Serikat, Uni Soviet, Jepang, Inggris, Prancis, Jerman, Arab Saudi, Tiongkok hingga Australia.
Agus juga menyurati radio-radio asing yang memiliki kotak pos di Jakarta, seperti: Deutsche Welle Jerman, BBC Inggris, NHK Jepang, dan ABC Australia. “Saya mengirimkan surat via kartu pos, tanpa terlalu menggantungkan harapan akan datangnya balasan,” katanya.
Di luar dugaan, sebagian besar kartu pos yang dikirim Agus ternyata berbalas. Kedutaan-kedutaan dan stasiun-stasiun radio itu mengirimkan buku-buku, majalah-majalah, foto-foto, dan panduan bahasa.
“Semua itu telah menjadi sebuah ‘jendela kecil’ yang memperkenalkan saya pada dunia yang lebih luas, melampaui imajinasi saya yang terbatas,” kata Agus.
Lulus SMA, Agus Trihartono melanjutkan kuliah di jurusan Hubungan Internasional FISIP Universitas Jember. Di sana dia berkenalan dengan sejumlah buku klasik, seperti “Perestroika: New Thinking for Our Country and the World” dari Mikhail Gorbachev; “The End of History and the Last Man” dari Francis Fukuyama, dan “The Grand Failure: The Birth and Death of Communism in the Twentieth Century” dari Zbigniew Brzeziński.
“Saya juga meresapi lagu ‘Wind of Change’ dari Scorpion,” kata Agus.
Lagu tersebut bukan sekadar kidung cinta para mahasiswa HI masa itu. Lagu itu juga menjadi semacam penanda pergeseran sistem dunia dari ‘ideological heavy’ ke deideologisasi, serta sistem internasional dari bipolar ke unipolar. bahkan multipolar. “Saya menikmati logika realisme dan beruntung merasakan kepingan sejarah yang melingkupinya,” kata Agus.
Kelar meraih gelar sarjana, Agus Trihartono melanjutkan kuliah S2 dan mengambil program doktoral di Ritsumeikan University, Kyoto, Jepang. Dia dibimbing ilmuwan sosial Jun Honna Sensei dan Kenki Adachi Sensei, serta almarhum Takashi Inoguchi Sensei dari Universitas Tokyo.
“Saya mendapatkan pelajaran betapa opini publik dan narasi yang terbangun, dalam kehalusannya dapat menciptakan revolusi senyap, mempengaruhi dan membentuk kebijakan politik yang dapat mengubah lanskap, meski tentu saja dengan segala keterbatasan serta potensi manipulasinya,” kata Agus.
Pada akhirnya, Agus merasa, perjalanan akademiknya seperti rangkaian kebetulan yang saling berkelit berkelindan. “Setelah titik-titik terhubung (connecting the dot), saya melihat bahwa semua warna perjalanan akademik ini adalah anugrah Illahi Robbi yang menguatkan pondasi saya belajar HI dan diplomasi,” katanya.
Agus Trihartono percaya koinsidensi acap kali bukanlah kebetulan tanpa arti. “Melainkan isyarat kecil semesta dalam menemukan panggilan dan assignment kita yang sejati. Meminjam istilah aktivis mahasiswa Soe Hok Gie, saya menelusuri “jalan sunyi” yang saya syukuri sepenuh hati,” katanya.
Sebagai rektor Universitas Islam Cordoba Banyuwangi, Agus menyebut kampus itu kini sebagai rumah keduanya. “Saya sekarang ini memiliki dua rumah tempat berbakti, yakni Universitas Jember dan Universitas Islam Cordoba Banyuwangi,” katanya.[wir]






