Surabaya (beritajatim.com) – Koresponden kami di Singaraja melaporkan: Pada Senin malam, kelompok Dardanella mementaskan drama Bali berjudul “Fatima”.
Mempertunjukkan cerita berlatar Bali di Bali sendiri merupakan langkah berani, karena penonton lokal pasti langsung menyadari kesalahan sekecil apa pun. Namun, reputasi Miss Dja telah begitu terkenal hingga seluruh tiket terjual habis, termasuk tempat duduk termahal.
Setelah pertunjukan, hanya ada satu penilaian: kekaguman akan kemampuan akting, terutama dari pemeran utama —Miss Dja sebagai “Fatima” dan lawan mainnya, Astaman, sebagai pendeta tinggi. Mereka sungguh luar biasa.
Kehebohan dalam Tarian dan Akting
Salah satu momen paling memukau adalah tarian kuil, di mana ekspresi mata Miss Dja begitu menakjubkan saat ia menyadari kehadiran kekasihnya di antara penonton —sebuah cinta yang terlarang baginya sebagai pendeta wanita.
Tarian itu sendiri indah, meski tidak sepenuhnya sesuai dengan gaya Bali asli. Hal ini cukup mencolok, mengingat kostum kelompok ini biasanya sangat detail. Kostum “Fatima” pun tidak sepenuhnya autentik.
Momen mengharukan lainnya adalah ketika sepasang kekasih ini ketahuan bersama oleh sang pendeta (ayah Fatima), diperankan dengan luar biasa oleh Astaman. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ekspresi wajahnya begitu kuat.
Sementara itu, Miss Dja memukau dalam adegan keputusasaan saat ia menyadari cinta terlarangnya akan membawa kematian bagi dirinya dan kekasihnya.
Saat ia mendekati ayahnya, yang ternyata hanya melihatnya sebagai pendeta tinggi yang kaku pada tradisi—bahkan rela mengorbankan anaknya sendiri—akting Miss Dja sekali lagi membuktikan bahwa ia adalah aktris berbakat sejati.
Dengan peran ini, Miss Dja semakin mengukuhkan dirinya sebagai bintang panggung yang luar biasa. [but]
*) Tulisan ini merupakan terjemahan bebas dari koran berbahasa Belanda “De koerier” yang terbit tanggal 20-02-1933.






