Malang (beritajatim.com) – SMK Negeri 3 Malang kembali menggelar Pagelaran Bahasa dan Seni Jawa (PAJA) 2025 yang diikuti oleh sekitar 560an siswa. Menariknya, penampil, panitia, dan tim produksi, seluruhnya berasal dari kelas 10 dan 12. Bahkan, seluruh proses pagelaran ini dikelola oleh siswa, mulai dari konsep, manajemen acara, hingga pencarian sponsor.
Menurut Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMKN 3 Malang, Izzul Mutho’, S.Pd., PAJA telah diselenggarakan rutin sejak 2015. Pagelaran menjadi ujian praktik akhir mata pelajaran Bahasa
Jawa dan Seni Budaya, terutama untuk siswa kelas 12. “Anak-anak dibentuk tim produksi mandiri tanpa campur tangan guru. Mereka mengatur sendiri latihan, properti, tempat, bahkan logistiknya,” jelas Izzul kepada beritajatim.com.
Kegiatan ini bukan hanya wadah ekspresi seni, namun juga menjadi sarana pelestarian budaya lokal, terutama bahasa dan seni pertunjukan tradisional Jawa seperti ketoprak dan ludruk. Izzul menyebutkan bahwa semangat siswa untuk tampil di PAJA begitu besar, hingga bahkan menyaingi antusiasme terhadap pelajaran reguler.
Susiati, S.Pd, Guru Bahasa Jawa yang terlibat langsung dalam proses seleksi dan pembinaan menjelaskan bahwa pagelaran ini bertujuan membangun karakter siswa melalui kerja tim, tanggung jawab, dan manajemen konflik.
“PAJA ini bukan hanya soal tampil, tapi juga membangun kedisiplinan, rasa percaya diri, dan semangat kolaborasi,” tutur Susiati.
Tahun ini, PAJA mengusung tema“Lintang Cakrawala, yang mengandung harapan agar siswa dapat bersinar sesuai potensi masing-masing, seperti bintang di langit. Seluruh penampilan 16 pertunjukan drama dan 2 tari, disajikan dengan iringan musik tradisional live yang diaransemen sendiri oleh siswa.
Latihan intensif dilakukan selama dua bulan, bahkan saat bulan Ramadan. “Siswa tetap semangat latihan hingga malam hari, lalu salat tarawih dan buka puasa bersama. Ini membuktikan bahwa mereka benar-benar total,” tambah Susiati.
Meskipun yang tampil adalah siswa kelas 12, siswa kelas 10 ikut berperan penting sebagai penonton dan calon pelaksana di tahun-tahun mendatang. Panitia juga melibatkan siswa baru untuk mengenalkan atmosfer PAJA sejak dini. Orang tua yang tidak bisa hadir difasilitasi dengan live streaming YouTube, karena keterbatasan ruang dan waktu.

Sebagai bentuk apresiasi, panitia dan sekolah memberikan penghargaan bagi penampilan terbaik. Penilaian dilakukan oleh juri eksternal profesional agar tetap objektif dan transparan. Penghargaan mencakup tropi, goodie bag, dan hadiah dari sponsor, termasuk untuk kategori aktor, aktris, artistik, dan musik terbaik.
Widya Rahmadani, siswi kelas 12 yang menjabat sebagai sekretaris panitia, mengungkapkan bahwa pengalaman ini sangat berharga. “Saya belajar mengatur waktu, mengkoordinasi banyak orang, dan menangani konflik. Ini sangat berguna untuk masa depan, termasuk nanti saat kuliah,” ujarnya.
PAJA yang telah berjalan selama satu dekade ini berhasil dipertahankan berkat strategi sekolah yang menanamkan tradisi kepada siswa sejak awal masuk. “Dari kelas 10 mereka sudah tahu bahwa kelas 12 nanti akan tampil. Ada gengsi tersendiri di kalangan siswa untuk bisa unjuk diri di PAJA,” imbuh Izzul.
Dengan menggabungkan unsur pelestarian budaya dan penguatan karakter, PAJA menjadi salah satu praktik terbaik pendidikan berbasis kearifan lokal di SMK. Semangat gotong royong, manajemen mandiri, dan kreativitas menjadikan PAJA bukan sekadar ujian akhir, melainkan pengalaman tak terlupakan bagi para siswa. (dan/kun)







1 Komentar
KERENNN SMEKAAA🔥🔥