Malang (beritajatim.com) – Inklusi Sub-Mitra Kabupaten Malang kembali menyelenggarakan forum pendampingan teknis bagi fasilitator Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS), Rabu (9/4/2025) di UPT Peningkatan Tenaga Kesejahteraan Sosial Provinsi Jawa Timur, Kota Malang.
Forum Bimbingan Teknis ini berlangsung selama empat hari, mulai 8 hingga 11 April 2025, dari pukul 08.00 WIB hingga 22.00 WIB. Kegiatan ini merupakan respon atas meningkatnya kasus perkawinan anak di Kabupaten Malang, dengan tujuan membekali para fasilitator agar mampu memberikan pendampingan secara inklusif dan menyeluruh.
Ketua Lakpesdam PCNU Kabupaten Malang, Dr. Sutomo, S.Ag., M.Sos., membuka langsung kegiatan tersebut. Menurut Sutomo, program ini menjadi wadah penting dalam mempersiapkan generasi muda agar tangguh menghadapi tantangan zaman.
“Sehingga kita harus memastikan bahwa generasi saat ini memiliki ketrampilan yang cukup agar mampu menghadapi tantangan dimasa depan,” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa pernikahan membutuhkan kesiapan fisik dan mental, serta kemampuan dan pengetahuan yang matang.
“Semua yang hadir disini merupakan orang-orang terpilih untuk mendapat bimbingan teknis. Sehingga diharapkan fasilitator yang hadir saat ini dapat memberikan pendampingan secara maksimal Ketika berada dilapangan. Semoga apa yang kita lakukan akan membawa manfaat kepada masyarakat yang ada disekitar kita,” ucap Sutomo.
Bimtek hari ini menghadirkan dua narasumber utama. Pertama, Nurmey Nurulchaq, psikolog perempuan lulusan S2 UGM yang juga merupakan instruktur nasional Bimas Islam Kementerian Agama RI. Nurmey aktif dalam berbagai inisiatif nasional termasuk pencegahan stunting, penulisan modul kekerasan dalam rumah tangga, serta pengasuhan komunitas buruh migran. Ia juga dosen di Universitas Atma Jaya Yogyakarta.
Narasumber kedua adalah Dr. Muhammad Mahpur, dosen Psikologi UIN Malang dan alumnus Psikologi Sosial UGM. Ia aktif di Kampus Desa Indonesia, pengarusutamaan gender, serta peace building. Dr. Mahpur juga tercatat sebagai instruktur nasional Bimas Islam Kementerian Agama RI.
Sebanyak 20 peserta dari berbagai lembaga seperti Lakpesdam NU, Penyuluh, Penghulu KUA, Fatayat NU, LKKNU, IPNU, IPPNU hingga tokoh lintas agama termasuk Pendeta Kristen turut ambil bagian dalam pelatihan ini.
Tujuan utama kegiatan ini adalah membekali fasilitator dengan perspektif inklusif untuk mencegah perkawinan anak. Diharapkan, para peserta mampu meningkatkan kapasitasnya dalam memberikan bimbingan remaja dan masyarakat, serta menjalankan tugas pelayanan dengan pendekatan yang inklusif dan responsif terhadap tantangan sosial saat ini. [yog/beq]






