Surabaya (beritajatim.com) – Dua tahun menjabat sebagai Sekretaris PSSI Jawa Timur, Dyan Puspito Rini mencatatkan berbagai prestasi signifikan dalam pengembangan sepak bola di wilayah tersebut.
Meski baru pertama kali terjun dalam dunia sepak bola, kiprah Ririn — sapaan akrabnya — berhasil membawa perubahan yang diakui berbagai pihak, terutama dalam sektor sepak bola wanita dan pembinaan usia muda.
Wakil Ketua PSSI Jatim, Amir Burhannudin, menyebut bahwa sejak perempuan berusia 46 tahun itu memegang kendali sebagai sekretaris, pengelolaan sepak bola wanita mengalami perkembangan yang positif. Dyan dinilai mampu membuka ruang kolaboratif dan memaksimalkan potensi sepak bola perempuan yang sebelumnya kurang terangkat.
“Dia memang sedang mengembangkan sepak bola wanita dan youth dan beberapa sudah ada yang terealisasi dan ada juga yang masih menjadi pekerjaan rumah PSSI. Kemarin ada Piala Pertiwi dan sedang meng-create Barati Cup,” ungkap Amir pada Senin (7/4/2025).
Dyan tidak hanya fokus pada sepak bola wanita, tetapi juga aktif dalam membangun fondasi pembinaan pemain muda. Salah satu program besar yang tengah disiapkan adalah kolaborasi dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga dalam penyelenggaraan Barati Cup, sebuah event nasional yang bertujuan menjaring bibit unggul dari seluruh Indonesia.
Program-program tersebut, menurut Amir, akan dibahas lebih lanjut oleh jajaran PSSI Jatim guna memastikan keberlanjutan visi dan misi yang telah dirintis Dyan. Ia menegaskan pentingnya membicarakan program yang belum sempat direalisasikan namun telah dirancang secara detail oleh mendiang sekretaris.
“Tentu kami akan membahas hal ini, namun untuk bagaimana selanjutnya nanti akan dibicarakan oleh ketua,” imbuhnya.
Dyan Puspito Rini mulai bergabung dengan PSSI Jatim pada tahun 2022, menggantikan posisi yang sebelumnya dijabat oleh Amir Burhannudin. Pemilihannya kala itu didasari rekomendasi dari CEO Deltras FC yang melihat latar belakang kuat Dyan di bidang olahraga dan akademik.
Ia dikenal memiliki wawasan luas terkait manajemen kompetisi, dengan fokus penelitian saat berkuliah di Jepang mengenai sistem liga J.League yang sejajar dengan Liga 1 Indonesia.
Dengan pendekatan yang berbasis riset dan pengalaman sebagai mantan atlet, Dyan membawa warna baru dalam struktur organisasi sepak bola regional. Kini, kepergiannya meninggalkan warisan kerja yang patut diteruskan demi kemajuan sepak bola Jawa Timur. [way/ian]






