Kita masih ingat hari itu, 2 April, 25 tahun silam, saat pertandingan Persebaya Surabaya melawan PSIM Jogjakarta, di Gelora 10 Nopember. Tapi bukan skor yang kita ingat.
Bahkan saya tak menemukan sepotong berita pun di internet yang mengulas pertandingan hari itu. Semua berita lebih mengulas apa yang dialami Eri Irianto. Dalam sebuah pertandingan yang berjalan cepat (dan seperti biasa, Persebaya menguasai jalannya laga), dia bertabrakan dengan pemain PSIM asal Gabon, Samson Noujine Kinga.
Semula sepertinya tidak ada apa-apa. Ini hanya tabrakan biasa. Namun menjelang babak pertama selesai, Eri yang saat itu berusia 26 tahun mendadak sakit kepala. Langkahnya tak normal. Limbung.
Merasa ada yang tak beres, pelatih menarik keluar Eri, digantikan Nova Arianto pada menit 44. Saat itu skor masih kaca mata. Cuaca cerah, dan pertandingan ditonton kurang lebih 10 ribu pasang mata.
Tim medis Persebaya segera melarikan Eri Irianto ke Rumah Sakit dr. Soetomo. Tim dokter berjibaku.
Pemain bertubuh kekar itu akhirnya meninggal dunia pada dinihari, 3 April 2000.
Berpulangnya Eri Irianto memukul dunia sepak bola. Hasil selancar saya di internet: pemain kelahiran Sidoarjo itu adalah pemain Indonesia pertama pada era liga profesional yang meninggal akibat cedera dalam pertandingan.
Eri Irianto menjadi definisi harfiah pemain yang berjuang hidup dan mati di lapangan hijau. Selama dua puluh tahun berikutnya tercatat ada sejumlah pemain yang meninggal dunia setelah insiden di lapangan hijau, bagaikan prajurit yang gugur di medan pertempuran.
Eri wafat di usia muda, pada usia emas. Dia juga baru saja menikah, dua pekan sebelum maut menjemput. Dia mengantarkan dua klub yang berbeda menembus final pada era Liga Indonesia, sebuah era penyatuan kompetisi Perserikatan dan Liga Sepak Bola Utama (Galatama).
Musim 1994-95, Eri menjadi salah satu pilar Petrokimia Putra, bersama Jacksen F. Tiago dan Carlos de Mello. Eri kemudian pindah ke Persebaya Surabaya pada 1998—setelah sebelumnya berkarir di Malaysia. Eri Irianto ikut berjasa membawa Bajul Ijo menjadi runner-up Liga Indonesia pada musim 1998/1999.
Pada masa itu, dia juga memperkuat tim nasional pada 1995-1997. Selama bermain untuk tim nasional, dia sudah mencetak delapan gol melalui tendangan kerasnya yang masyhur itu. Kamboja adalah lawan favoritnya: empat gol dicetaknya ke gawang mereka.
Bermain sebagai breaker, Eri dikenal karena tembakan jarak jauhnya nan keras dan akurat. Orang bilang ‘tendangan geledek’. Tendangan halilintar. Bola melesat keras menuju gawang, dan membuat penjaga gawang tak berdaya.
Persebaya memastikan Eri tidak akan dilupakan dengan memensiunkan nomor punggung 19 dari jersey klub hingga saat ini. Tak ada lagi pemain Persebaya yang berhak dan boleh mengenakan nomor punggung tersebut. Jerseynya dipajang di Wisma Persebaya di Jalan Karanggayam, yang kemudian berubah nama pula menjadi Wisma Eri Irianto.
Wafatnya Eri dan penghormatan yang dilakukan Persebaya untuk mengenangnya menunjukkan bagaimana sebuah klub sepak bola bukan sekadar entitas industri olahraga. Dalam usianya yang singkat, Eri menunjukkan kepada banyak orang tentang arti sebuah klub seperti Persebaya. Tentang arti sepak bola itu sendiri. Ini bukan hanya soal pekerjaan, bukan hanya tentang periuk yang harus dipastikan terisi nasi. Ini lebih dari itu.
Pemain datang dan pergi. Begitu juga pelatih. Bahkan para petinggi dan pemilik klub. Tidak ada yang abadi. Mungkin tak semua berkesempatan mengangkat trofi—seperti Eri yang mampu dua kali menembus final Liga Indonesia bersama Petrokimia Putra dan Persebaya, namun belum berhasil menggenggam gelar juara. Eri Irianto seolah menemukan jalannya sendiri untuk dicatat dalam sejarah: dedikasi hingga akhir hayat. [wir]
Penulis adalah penggemar sepak bola






