Ngawi (beritajatim.com) – Banjir yang melanda Kabupaten Ngawi akibat luapan Sungai Bengawan Madiun mulai berangsur surut pada Sabtu (29/3/2025) sore. Meski demikian, sejumlah warga masih bertahan di pengungsian karena akses jalan yang masih terendam air setinggi lebih dari satu meter.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ngawi, banjir ini telah merendam 11 desa di tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Kwadungan, Padas, dan Pangkur. Desa Pleset dan Waruktengah di Kecamatan Pangkur menjadi wilayah terdampak paling parah. Belasan kepala keluarga (KK) terpaksa mengungsi ke rumah tetangga yang aman dari banjir.
Petugas gabungan dari TNI-Polri dan BPBD terus melakukan penyisiran menggunakan perahu karet untuk memastikan keselamatan warga. “Air mulai surut tapi jalan masih belum bisa dilalui. Kita petugas masih berjaga di lokasi. Di Pangkur ada 4 desa, ada 12 KK mengungsi di tetangga,” ujar Letda Inf Harsono, Danramil Pangkur.
Warga mulai melakukan pembersihan di rumah masing-masing, namun sebagian lainnya tetap memilih bertahan di tempat pengungsian hingga kondisi benar-benar aman. “Air sudah surut, tapi jalan masih belum bisa dilalui. Ketinggian air satu meter, warga masih mengungsi,” kata Ari Risqi, salah satu warga terdampak.
Kondisi serupa terjadi di beberapa ruas jalan desa di Kecamatan Kwadungan. Warga yang harus beraktivitas terpaksa menggunakan jasa penyeberangan dengan biaya Rp10 ribu sekali jalan. “Ada 11 desa tersebar di 3 kecamatan yang terdampak banjir. Terparah di Waruktengah. Warga sudah kita evakuasi dengan perahu karet, kita juga berikan bantuan,” ungkap Partoyo, Kasi Kedaruratan BPBD Kabupaten Ngawi.
Sebelumnya, banjir akibat luapan Sungai Bengawan Madiun mulai merendam permukiman warga sejak Sabtu pagi. Meskipun air berangsur surut, petugas tetap mengimbau warga untuk tetap waspada terhadap potensi banjir susulan jika hujan kembali mengguyur wilayah hulu sungai. [fiq/kun]






