Jombang (beritajatim.com) – Ketika Warsubi dilantik menjadi Bupati Jombang pada Februari 2025, banyak orang hanya melihatnya sebagai seorang pemimpin baru. Namun, di balik sosoknya yang sederhana, Warsubi adalah seorang pegiat sektor pangan yang tumbuh dari titik nol.
Sebelum terjun ke dunia politik, Warsubi adalah seorang pengusaha yang akrab dengan lumpur sawah dan debu peternakan. Baginya, sektor pangan adalah nadi kehidupan bangsa agraris seperti Indonesia, namun sayangnya, potensi itu kerap tersisih oleh derasnya impor pangan.
“Banyak produk pangan yang kita impor, padahal di desa-desa kita banyak hasil alam yang bisa diolah dan dikembangkan,” ucapnya suatu waktu dengan nada prihatin.
Tidak hanya dikenal sebagai pengusaha, Warsubi juga dihormati karena kesederhanaan dan komitmennya kepada masyarakat. Pria kelahiran tahun 1968 ini memulai kariernya dari nol. Bermodalkan Rp75 ribu yang dipinjam ibunya dari koperasi, Warsubi memberanikan diri merantau ke Pasuruan pada tahun 1991.
Berbekal pendidikan Diploma dari Universitas Brawijaya (UB) Malang, Warsubi memulai usahanya sebagai mitra pemasok pupuk cair organik untuk perusahaan Korea, Cheil Samsung Astra Indonesia (kini PT Cheil Jedang Indonesia). Dari usaha tersebut, Warsubi mulai menanam tebu dan padi, memperlihatkan efektivitas pupuk organik yang ia kelola.
Warsubi berusaha memanfaatkan potensi lokal dengan memberdayakan masyarakat. Ia memulai usaha pupuk cair organik, mendidik para petani untuk kembali ke pola alami yang lebih ramah lingkungan. Keberhasilan itu menjadi pondasi kuat baginya untuk mengembangkan lahan tebu dan padi sebagai bukti nyata manfaat pupuk organik.
Usaha Warsubi terus berkembang, dari bertani hingga beternak. Tahun 1997, ia merintis peternakan ayam yang kini tersebar di 18 kabupaten dengan kapasitas mencapai 1,2 juta ekor ayam. Pada 2008, ia mendirikan rumah potong ayam (RPA) dengan kapasitas pemotongan 40 truk ayam per hari. Hasilnya tak hanya memenuhi kebutuhan pangan Jombang, tetapi juga merambah pasar Jawa hingga Papua.
Dalam perjalanannya, Warsubi kerap menghadapi tantangan berat, termasuk krisis moneter 1998. Namun, dengan lahan tebu seluas 80 hektar dan inovasi pemasaran yang ia pelajari di Korea Selatan, usahanya justru semakin solid. Nama “Samsubi” lahir dari inspirasinya pada perusahaan besar seperti Samsung dan Sime Darby — sebuah simbol tekadnya untuk menjadikan Jombang lebih maju.
Kini, di bawah naungan PT Phalosari Unggul Jaya, Warsubi tidak hanya bergerak di peternakan, tetapi juga mengelola Samsubi Farm, menghasilkan produk olahan seperti sosis, bakso, dan kornet. Semua ini ia lakukan dengan semangat ingin mengabdikan diri bagi tanah kelahirannya.
Bagi Warsubi, Jombang bukan sekadar tempat tinggal. Ia adalah ladang pengabdian, ruang besar untuk menumbuhkan harapan dan membangun kesejahteraan masyarakat. Dari tanah pertanian hingga kursi pemerintahan, Warsubi membuktikan bahwa pengabdian dapat dimulai dari akar rumput hingga pucuk pimpinan. [suf]






