Lamongan (beritajatim.com) – Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi menjadi salah satu kepala daerah yang memiliki komitmen kuat dalam meningkatkan sektor pertanian di daerahnya.
Berkat berbagai program dan inovasi, Kabupaten Lamongan di bawah kepemimpinan Bupati Yuhronur, secara konsisten menjadi daerah dengan produksi padi tertinggi di Jawa Timur.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produktivitas padi Kabupaten Lamongan tahun 2022 sebesar 903.882 ton. Kemudian pada tahun 2023 sebesar 798.705 ton dan 2024 produksi padi Kabupaten Lamongan sebesar 776.953 ton.
Keberhasilan ini tidak terlepas dari upaya pemerintah daerah dalam mengoptimalkan sistem penunjang pertanian. Mulai dari penyediaan sarana irigasi, alat mesin pertanian, pembangunan infrastruktur pertaniant termasuk jalan usaha tani, hingga pemberian bantuan kepada para petani.
Meski mencatatkan produksi tertinggi di Jatim, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) bersama Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Lamongan terus merupaya meningkatkan produktivitas.

Bidang pertanian menjadi prioritas dalam program yang diusung Bupati Yuhronur pada periode kedua masa kepemimpinannya. Bupati yang akrab disapa Pak Yes itu berkomitmen untuk bisa menghadirkan solusi terhadap permasalahan yang dihadapi petani.
Untuk mendukung peningkatan bidang pertanian di tahun 2025, Pemkab Lamongan mengalokasikan 20 persen anggaran dana desa pada tahun 2025 untuk sektor pertanian.
Pak Yes mengatakan, pengembangan sektor pertanian melalui program kelas lapang, akan disediakan baik secara formal maupun non-formal.
Program ini bertujuan untuk memberikan pengalaman dan pelatihan kepada petani Lamongan mengenai teknik bertani yang lebih modern dan terencana, seperti yang tercantum dalam Sekolah Pelatihan Lapang Terpadu (SPLT).
“Kami terus berupaya meningkatkan produktivitas pertanian dengan memberikan pendampingan kepada petani, memperbaiki infrastruktur irigasi, serta mendorong penggunaan teknologi pertanian yang lebih efektif dan efisien,” ujar Pak Yes.
Pemkab Lamongan juga melakukan ragam upaya untuk meningkatkan produktivitas padi. Di antaranya menyediakan bibit berkualitas, pembangunan perbaikan atau rehabilitasi jaringan irigasi baik primer, sekunder dan tersier, embung serta sumur.
Kemudian melakukan optimalisasi potensi lahan sawah dan bukan sawah untuk ditanami padi (wilayah rawa dan perhutanan sosial), penyediaan pompa, pendampingan melalui sekolah lapang, agar budidaya padi bisa dikawal sampai panen dengan hasil yang baik.
Selain itu, penanaman pada masa tanam (MT) kedua juga langsung dilakukan setelah panen MT pertama. Hal ini bertujuan untuk bisa mewujudkan target luas tambah tanam yang sudah ditargetkan, yakni 192.373 hektare.
“Alhamdulillah MT II sudah bisa dimulai di Lamongan. Semoga gencarnya MT II akan bisa memenuhi target kita menuju swasembada pangan tahun ini,” tutur Pak Yes.
Menurut data Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Lamongan, hingga bulan Maret, luas tanam di Kota Soto sudah mencapai 15.043 hektare.
Upaya luas tambah tanam (LTT) yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Lamongan ialah dengan menggunakan 7.773 hektar lahan bera, tegal, dan kebun untuk pertanian. Karena lahan baku pertanian Kabupaten Lamongan adalah 96,095,9 hektare.
“Ragam upaya yang kami lakukan, mulai dari memanfaatkan lahan bera untuk pertanian, penyusunan jadwal tanam disetiap kecamatan, monitoring lapangan harian, hingga identifikasi ketersediaan benih, pupuk, dan alsintan. Karena selain untuk memenuhi target, tujuan kita ialah mempertahankan predikat lumbung pangan nasional,” ucap Pak Yes.
Selain padi, Kabupaten Lamongan juga menjadi salah satu daerah penghasil jagung terbesar di Jawa Timur. Lamongan berada di urutan 5 besar. Rata-rata produksi jagung Lamongan mencapai 582.662 ton per tahun, dengan produktivitas 8,4 ton per hektare. (fak/ted)






