Kekalahan telak lawan Australia, 1-5 pada lanjutan babak Kualifikasi Piala Dunia Grup C di Sydney Football Stadium (20/3/2025) lalu akan berdampak besar pada mental pemain. Harapan kita bisa membawa pulang satu poin pada pertandingan tersebut berubah menjadi kekalahan yang sangat diluar ekspektasi. Kondisi ini bisa menjadi faktor penentu pada laga berikutnya melawan Bahrain, Selasa (25/3/2025) mendatang di Stadion Gelora Bung Karno.
Secara tim, kualitas Bahrain tidak sebagus Australia dan Indonesia punya pengalaman impresif pada pertandingan sebelumnya, ketika Jay Idzes dan kawan-kawan nyaris memenangkan pertandingan walaupun bertanding di hadapan suporter Bahrain.
Data pertemuan sebelumnya, Indonesia dengan Bahrain sudah delapan kali bertemu dalam berbagai ajang pertandingan internasional. Dari pertemuan tersebut, Indonesia dua kali memenangkan pertandingan, tiga kali seri dan tiga kali kalah. Merujuk pada hasil pertandingan tersebut, secara kualitas tidak jauh berbeda. Perlu dicatat bahwa saat itu Indonesia tidak diperkuat sebanyak pemain naturalisasi seperti sekarang ini.
Karena itu, peran mental bertanding pemain akan menjadi faktor penentu kedua tim. Tim Bahrain begitu khawatir bermain di hadapan pendukung Indonesia karena masifnya masyarakat yang tidak terima dengan “kecurangan” Bahrain ketika menjadi tuan rumah. Indonesia yang sudah unggul 2-1 saat itu harus kebobolan lagi lewat gol yang kontroversial karena waktunya sudah melebihi injury time yang sudah ditentukan.
Kejadian tersebut memicu Federasi sepak bola Bahrain untuk mengajukan perpindahan tempat pertandingan ke AFC Ketika Indonesia bertindak sebagai tuan rumah. Bahkan, Duta Besar Bahrain untuk Indonesia, Ahmed Abdulla Alharmasi Alhajeri sampai meminta kepada Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia, Dito Ariotedjo untuk memberikan pengamanan ekstra kepada tim Bahrain dalam pertandingan Selasa mendatang.
Teror Nitizen Indonesia terhadap tim sepak bola Bahrain, apalagi pertandingan itu nanti akan dilangsungkan dihadapan puluhan ribu penonton Indonesia, akan menjadi beban psikologis bagi pemain Bahrain, sebaliknya bagi pemain Indonesia. Kehadiran penonton bisa menjadi pemicu meningkatkan motivasi untuk menampilkan permainan terbaiknya dan memenangkan pertandingan. Sebagaimana disampaikan oleh pakar psikologi Amerika Serikat, Sheldon Cohen (1988) bahwa dukungan sosial dapat mempengaruhi performa dengan meningkatkan kemampuan untuk menghadapi stress dan meningkatkan motivasi.
Memperhatikan realita tersebut, perlu adanya pengelolaan kondisi psikologis pemain Indonesia setelah mengalami kekalahan telak dari Australia. Ada waktu efektif selama empat hari harus benar-benar dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk memperbaiki mental bertanding pemain. Perlu disediakan waktu khusus untuk memberikan mental training kepada pemain agar mereka bisa tampil dengan semangat dan melupakan hasil buruk dari pertandingan sebelumnya.
Selain mental pemain, Patrick Kluivert berserta jajaran asisten pelatih tim perlu melakukan evaluasi taktikal yang diterapkan kepada Jay Idezes dan kawan-kawan. Pola permainan ofensif yang diterapkan ketika melawan Australia apakah cocok dengan karakter pemain yang ada di dalam tim. Kelemahan mencolok saat itu terlihat pada saat transisi negatif, yakni ketika perubahan dari menyerang ke bertahan. Sering kali, pemain belakang dan tengah lambat membuat compact line untuk mengantisipasi serangan lawan.
Kehadiran pelatih dan beberapa pemain naturalisasi baru perlu penyamaan visi bermain tim. Semenjak ditunjuk sebagai Head Coach, Patrick Kluivert tidak punya banyak waktu untuk mengumpulkan pemain berlatih bersama. Sebagai pelatih baru yang menggantikan Shin Tae-yong perlu waktu untuk memberikan pemahaman tactical plan kepada pemain. Pemahaman tersebut tidak cukup hanya disampakan pada sesi classroom atau locker room secara verbal, tetapi lebih penting jika disampaikan secara praktik saat sesi latihan di lapangan.
Menguji Kebijakan PSSI
Hasil pertandingan selanjutnya, khususnya lawan Bahrain dan China akan menjadi tolok ukur kualitas Patrick Kluivert dan staf kepelatihannya. Sekaligus menguji kebijakan PSSI terhadap pergantian tim pelatih dan penambahan pemain naturalisasi yang terus dilakukan. Indonesia kini menjadi negara terbesar pengguna pemain naturalisasi (90,09%) sebelumnya Maroko (61,5%) ketika ambil bagian di Piala Dunia 2022 di Qatar, jika dihitung dari strating XI.
Kebijakan tersebut akhirnya membatasi keberadaan pemain produk lokal untuk menjadi bagian dari Tim Nasional. Bahwa hinggi kini, produk pembinaan pemain Indonesia masih belum bisa menghasilkan prestasi yang membanggakan di level Asia maupun Dunia merupakan sebuah fakta yang tidak terbantahkan. Seharusnya kenyataan ini yang harus dicermati sebagai permasalahan yang harus ditangani oleh segenap stakeholder sepak bola Indonesia, bukan melakukan jalan pintas mengambil pemain berwarga negeri lain untuk dinaturalisasi.
Pembentukan Tim Nasional jangan disamakan dengan klub professional, yang bisa semaunya mengambil pemain dari berbagai negara. Juga bukan sebatas berdarah Indonesia atau keturunan Indonesia, tetapi lebih pada pertaruhan produk pembinaan yang kita lakukan.
Jika kebijakan Erick Thohir selaku ketua PSSI saat ini, terus melakukan upaya naturalisasi pemain asing tanpa menyeimbangkan pembenahan pembinaan secara internal, maka kondisi persepakbolaan nasional akan lebih memprihatinkan di masa mendatang. Kompetisi yang kita lakukan, mulai dari Liga 4 hingga liga 1, Piala Soreatin dan Elite Player Academy (EPA) serta pembinaan yang ada di berbagai wadah pembiaan tidak ada artinya, karena muara pembinaan sudah tertutup oleh pemain naturalisasi. Begitu juga dengan pelatih yang dihasilkan dari berbagai jenjang kursus kepelatihan menjadi percuma karena kesempatan pelatih untuk mengimplemtasikan ilmu kepelatihannya menjadi sangat terbatas. (*)
Penulis adalah Dosen Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan Universitas Negeri Surabaya






