Sumenep (beritajatim.com) – Siapa yang tidak kenal dengan srikaya? Buah dengan rasa manis ini menjadi salah satu produk buah unggulan di Sumenep. Ada beberapa kecamatan yang menjadi sentra produksi srikaya. Diantaranya Kecamatan Saronggi, Bluto, Batuputih, dan Talango. Dalam bahasa Madura, buah Srikaya biasa disebut dengan ‘Sarekaje’.
Varietas unggulan yang paling dikenal adalah Srikaya Langsar atau panenan dari Desa Langsar Kecamatan Saronggi. Srikaya dari desa ini memiliki ukuran lebih besar, daging lebih halus, serta rasa yang lebih manis dibandingkan srikaya dari daerah lain.
Saat masuk dalam masa panen raya srikaya seperti sekarang ini, sangat mudah mendapatkan buah ini, karena para penjual srikaya mulai pagi hingga sore, duduk berjajar di pinggir jalan utama Saronggi – Bluto, dan di Jl. Trunojoyo pintu masuk PasarAnom Baru Sumenep.
Para pedagang srikaya ini menjual srikaya per 10 biji atau sejinah. Bukan per kg. Atau bisa juga dengan sistem langsung satu keranjang. Dalam bahasa Madura, disebut ‘sarinjing’.
Dalam satu keranjang, jumlah buah srikaya bervariasi. Tergantung besar kecilnya. Untuk ukuran sedang, satu keranjang rata-rata berisi 20-25 srikaya. Harga srikaya ini pun bervariasi.
Tidak hanya dari besar kecilnya srikaya, tapi tingkat kematangannya pun menentukan harga. Semakin matang srikaya saat dibeli, harganya akan semakin murah. Berbalik dengan srikaya yang masih mentah atau matang dalam waktu 2 hari lagi, harganya akan lebih mahal.
Untuk srikaya yang masih mentah atau setengah matang ukuran besar, per 10 bijinya harganya bisa di atas Rp 50.000. Sedangkan untuk yang berukuran kecil, harganya kisaran Rp 25.000 – 30.000.
Buah srikaya yang dipanen dari berbagai sentra produksi srikaya ini kemudian akan dikelompokkan dalam beberapa ‘grade’. Untuk ‘grade’ terbaik akan didistribusikan ke beberapa supermarket besar di Surabaya. Sedangkan untuk ‘grade’ di bawahnya akan dikirim ke pasar tradisional di Surabaya.
Masa panen raya srikaya biasanya berlangsung pada Februari hingga Maret. Sayangnya, buah khas yang satu ini cepat matang, sehingga tidak bisa bertahan lama. Karena itu, tidak bisa dikirim ke lokasi yang jauh.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Sumenep Chainur Rasyid menilai perlunya inovasi untuk mengatasi persoalan tersebut.
“Karena buah srikaya ini tidak tahan lama, maka kami mendorong pengolahan srikaya agar memiliki nilai tambah dan daya simpan lebih lama. Jadi ada nilai ekonomi yang lebih tinggi. Tidak sekedar buah srikaya matang dan dimakan begitu saja,” katanya, Kamis (20/03/2025).
Ia menjelaskan, DKPP Sumenep telah melakukan berbagai upaya untuk pengembangan pengolahan buah srikaya. Salah satunya dengan menggandeng penyuluh pertanian di wilayah sentra srikaya untuk mengajak Kelompok Wanita Tani (KWT) mengembangkan produk olahan.
“Kami akan mendampingi kelompok tani agar dapat memanfaatkan potensi srikaya lebih maksimal. Dengan inovasi olahan buah srikaya, kita akan makin mudah memperluas pasar,” ujarnya. (tem/ian)






